Tampilkan postingan dengan label SehariMenuliSatu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SehariMenuliSatu. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 November 2014

[SMS - Day 21] There's A Hero

Inspired by my friend's video

Sumber dari sini

Sial! Hari ini benar-benar sial! Setelah tadi pagi kecopetan, telat masuk kelas, tidak bisa makan siang, dan sekarang terjebak hujan di halte bus yang atapnya sudah bolong-bolong. Bagus sekali! Hujan tinggal menyisakan gerimis saat seorang anak laki-laki menghampiriku, menawari ojek payung. Dengan halus aku menolaknya, tapi anak itu malah terlihat terkejut saat menatapku. Buru-buru ia menunduk dan pergi, membuatku mengamatinya dengan heran. Apa kami pernah bertemu sebelumnya? Karena penasaran mataku terus mengikutinya, setelah berjalan beberapa meter ia menyebrang dan masuk ke sebuah warung makan. Entah apa yang membuatku begitu ingin tahu, tanpa sadar aku melangkah membuntuti anak itu tanpa peduli akan rintikan air yang mulai membasahiku. Dari kaca warung aku melihat anak itu menerima kantung plastik besar berisi nasi bungkus. Aku mulai merasa bodoh telah mengikutinya, tapi kemudian mataku menangkap sesuatu yang tidak asing. Dompetku! Anak itu mengeluarkan dompetku dari saku celananya dan membayar nasi bungkus yang dibelinya. Jadi dia pencopet tadi pagi? Pantas saja!

Aku ingin sekali menegur anak itu, tapi lagi-lagi anggota tubuhku bergerak sendiri. Aku kembali membuntutinya, memasuki gang-gang kecil dan sempit sampai akhirnya tiba di suatu perkampungan kumuh. Aku tak pernah tahu ada tempat seperti ini di kota besar yang aku tinggali. Anak itu berjalan ke arah pendopo dari bambu yang ada di pojok lapangan. Kehadirannya langsung disambut beberapa anak kecil yang tampak lebih muda darinya. Mereka mulai berebutan nasi bungkus, tapi anak itu tampaknya mengatakan sesuatu yang membuat mereka diam dan mulai duduk dengan teratur. Aku mendekat, berusaha melihat lebih jelas apa yang mereka lakukan. Aku begitu terkejut saat melihat mereka ternyata sedang belajar. Anak itu mengajari mereka matematika, dengan kapur di tangan ia menuliskan perhitungan sederhana di papan tulis kecil. Diam-diam aku tersenyum melihatnya sebelum berjalan memasuki pendopo. “Hey!” seruku, membuat anak itu terkejut. Anak-anak lain tampak kebingungan saat melihat guru mereka menghampiriku sambil menunduk ketakutan. Anak itu mengeluarkan dompetku dari saku celananya dan mengulurkannya padaku, masih sambil menunduk. Kuambil dompet itu, bersamaan dengan kapur di tangannya sebelum berkata, “Hitunganmu salah! Sini aku ajari kalian.”

There's a hero
If you look inside your heart
(Hero - Mariah Carey)

Minggu, 09 November 2014

[SMS - Day 20] Teacher's Teacher

Sumber dari sini

“Selamat pagi, Bu!” Sapaan ceria itu yang selalu menyambut hariku sejak beberapa bulan terakhir ini. Aku tidak pernah menyangka akan menjadi guru TK seperti ini. Awalnya aku tidak yakin, aku tidak pernah bisa bergaul dengan anak-anak, tapi setalah satu bulan aku mulai menikmati pekerjaan ini. Anak-anak itu memang kadang tidak bisa diatur, namun tingkah polos mereka kadang membuatku tercengang.

Melalui ucapan polos mereka, anak-anak itu mengajariku banyak hal. Hanya hal-hal sederhana memang, tapi kadang kita tidak menyadarinya. Tentang saling berbagi. Tentang saling memaafkan. Bahkan tentang alasan kita tersenyum dan bahagia. Bagiku, mereka guruku. Mereka membuatku mencintai pekerjaan ini. Mereka membuatku mencintai hidupku.

Sabtu, 08 November 2014

[SMS - Day 19] A Man with Camera

Sumber dari sini

Lonceng di pintu café berdenting, membuatku otomatis menoleh dan memasang senyum bisnisku. Senyumku langsung melebar begitu melihat siapa yang datang, pemuda itu datang lagi. Aku tak tahu namanya, aku tak pernah berbicara padanya selain saat menerima dan mengantarkan pesanannya – yang selalu sama, secangkir vanilla latte. Interaksiku dengannya sama seperti dengan pelanggan lain, tapi entah kenapa aku merasa tertarik dengannya. Bukan, bukan karena wajah tampannya yang berbingkai kacamata itu pastinya. Aku tertarik pada benda yang selalu dibawanya, kamera analog yang terlihat sudah tua.

Biasanya setelah memesan ia akan langsung mengeluarkan kameranya dan mulai sibuk mengutak-atiknya – aku tak tahu apa yang sebenarnya ia lakukan. Kadang ia akan mengarahkan kameranya ke luar melalui jendela besar di sampingnya, sepertinya mengambil beberapa foto. Di hari lain ia hanya meletakkan kameranya di meja dan mengeluarkan setumpuk foto atau berlembar-lembar film yang seketika memenuhi meja di hadapannya. Ingin rasanya aku bertanya, apa dia seorang fotografer? Kenapa dia masih menggunakan kamera analog? Siapa namanya? Ah, oke mungkin wajah tampannya memang sedikit menarik perhatianku.

Jumat, 07 November 2014

[SMS - Day 18] Adik (Kelas)

Credit: GNAWKHUN_

Jackson masuk ke dalam kelas sambil menggerutu. Sepertinya pemuda itu sedang bad mood, ia bahkan melemparkan tasnya ke atas meja sembarangan. Ketika aku tanya kenapa, Jackson langsung mengomel panjang. Jackson bilang, dia bertemu adik kelas kurang ajar di pintu gerbang. Mereka bertabrakan, dan gadis itu – ya, adik kelas itu perempuan – tidak meminta maaf sama sekali padahal Jackson yakin kalau gadis itulah yang salah. Mereka sempat berdebat dan saling menyindir, membuatku yakin gadis itu mempunyai sifat yang mirip dengan Jackson. Tapi sepertinya yang paling tidak disuka oleh Jackson adalah fakta bahwa gadis itu tidak mengenalnya sama sekali – yang membuatku memutar bola mata mendengar rasa percaya dirinya yang kelewat tinggi.

Jackson bilang gadis cukup cantik, meski tidak langsing dan pipinya chubby tapi dia terlihat menggemaskan ketika marah – yang aku tidak mengerti kenapa dia sempat-sempatnya memperhatikan gadis itu. Rambutnya lurus, coklat sebahu lebih sedikit. Gadis itu dua tingkat di bawah kami. Dan namanya – “Hey Jackson, dia adikku!”

Kamis, 06 November 2014

[SMS - Day 17] Imaginary Friend

Sumber dari sini

“Kau sedang lihat apa?” Aku menoleh dan balas tersenyum pada seseorang yang telah duduk di sampingku.  Tanpa bicara, aku arahkan album foto di tanganku padanya. Album foto lama yang memuat semua kenangan masa kecilku. Di halaman yang terbuka tampak foto-foto seorang gadis kecil berusia lima tahun dengan berbagai latar belakang. Aku masih ingat semuanya. Foto gadis kecil di depan sebuah bangunan warna warni, itu saat hari pertama aku masuk taman kanak-kanak. Foto gadis kecil berlumuran tepung sambil memegang kue, itu saat aku pertama kali membantu ibu membuat kue. Foto–

“Kau terlihat menggemaskan di sini.” Aku menengok sekilas sebelum memperhatikan foto yang ditunjuknya. Di foto itu aku duduk di sebuah ayunan sambil tertawa gembira. Aku ingat saat itu, aku ingat alasanku tertawa. Aku ingat akan kehadirannya, kehadiran seorang bocah laki-laki seusiaku saat itu. Dia mendorong ayunanku dengan sangat kuat, membuatku ketakutan, tapi saat ayunan itu melambat dia memelukku dari belakang, saat itulah foto ini diambil. Aku beralih memperhatikan foto-foto lain, bocah itu ada disemua kejadiaan di foto-foto itu. Bocah itu ada disetiap hariku, menemaniku melewati masa kanak-kanak. Sosoknya mungkin tak tertangkap kamera, tapi semua tentangnya akan selalu melekat erat di ingatanku.

Rabu, 05 November 2014

[SMS - Day 16] His Path of Life

Aku tidak pernah berhenti kagum setiap kali mendengar kisah perjalanan hidup Jackson hingga sampai di titik ini. Ya, Jackson yang bodoh, konyol, penuh percaya diri, dan tidak pernah bisa diam, Jackson yang itu. Siapa sangka di balik sosoknya yang selalu terlihat main-main, Jackson pernah membuat suatu keputusan yang mengubah arah hidupnya. Keputusan yang sempat ditentang oleh kedua orangtuanya. Keputusan yang membuatnya menerima tantangan ayahnya, dan berhasil.

Dengan tantangan dari ayahnya, Jackson berhasil meraih posisi tertinggi yang bisa dicapainya pada saat itu. Namun dia tetap memutuskan untuk mundur, berbalik dan memulai perjalanannya yang baru dari awal. Jackson tahu tidak ada kepastian bahwa ia akan berhasil, ia hanya ingin mencoba. Mencoba mewujudkan mimpinya yang lain. “Kesempatan tidak akan datang dua kali. Mungkin nanti aku akan menyesal telah melepas semua ini, tapi aku akan lebih menyesal lagi jika tidak mencoba mengambil kesampatan yang datang padaku.”

Sumber dari sini

Selasa, 04 November 2014

[SMS - Day 15] Soulmate

Sejak pertama kali berkenalan, aku tahu ada yang spesial di antara mereka berdua. Bukan dalam konteks cinta tentu saja, keduanya sama-sama laki-laki. Namun ada sesuatu yang lain, yang mungkin lebih dalam daripada cinta. 

Kenapa aku bilang begitu? Lihat saja bagaimana cara mereka bertatapan. Ada yang berbeda dari tatapan mereka untuk satu sama lain. Tak jarang aku melihat mereka bertatapan kemudian mengangguk atau tersenyum, seolah mengerti apa yang ada di pikiran masing-masing. Disaat yang lain berdebat, mereka hanya perlu saling menatap untuk membuat suatu kesepakatan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun mereka bisa saling bicara, melalui tatapan mata. Apa ini yang disebut soulmate?

Credit: Before Sunrise

Senin, 03 November 2014

[SMS - Day 14] Misteri Kamar Bawah Tanah

Sumber dari sini

Semua ini gara-gara permainan bodoh bernama truth or dare. Oke ini memang salahku karena memilih dare, tapi siapa yang mengira mereka akan mengurungku di kamar bawah tanah yang sudah lama tidak dipakai ini? Dan yang lebih parah, kenapa juga aku harus dikurung bersama makhluk paling tidak bisa diam sedunia bernama Jackson? Aku sudah tidak tahu lagi alasanku kesal sedari tadi. Karena aku dikurung di kamar kecil nan pengap yang penuh dengan perabotan tua berdebu? Atau karena Jackson yang terus sibuk mengoceh tentang hal-hal mistis di kamar ini sejak kami dikurung lima menit yang lalu? Aku berusaha tidak mengacuhkan kehadiran Jackson dan semua ocehan tidak masuk akalnya. Mataku mulai menjelajahi seisi kamar dengan pencahayaan remang ini kemudian berhenti pada sesuatu tepat di samping Jackson. 

“Hey Jackson, lihat ada apa di sampingmu!” Jackson hanya mendengus dan mengatakan bahwa aku hanya ingin menakut-nakutinya. Dia bilang dia tidak akan tertipu. Dia kemudian menoleh ke kiri lalu ke kanan, dan yang selanjutnya aku dengar hanya teriakannya yang lantang. Dengan cepat Jackson sudah bersembunyi di belakangku, memukul-mukul bahu dan punggungku dengan kejam sambil mengomel mengatakan kenapa aku tidak memberitahunya lebih awal. “Ya maaf, aku tidak tahu kau takut laba-laba.”

Minggu, 02 November 2014

[SMS - Day 13] Something Special

“Hey, lihat apa yang kau lakukan padanya!” Aku menatap Jackson dengan perasaan bersalah, pemuda itu sekarang sudah berlutut dan menunduk. “Kau tidak tahu betapa aku menantikannya! Dia yang begitu special akhirnya hadir di hadapanku. Apa kau tidak lihat sosoknya yang berkilauan? Apa kau tidak tahu betapa manisnya dia? Sekarang, saat dia sudah di tanganku, kau malah menghancurkan segalanya! Teganya kau merampas kebahagiaanku! Kau benar-benar tidak tahu perasaan!”

Aku memutar bola mataku saat Jackson mulai bersujud dan memukul-mukul tanah. Oh ya, aku sudah sangat terbiasa dengan sifatnya yang satu ini. “Berhenti melebih-lebihkan Jackson, itu hanya es krim! Akan kubelikan yang baru untukmu!”

Sumber dari sini

Sabtu, 01 November 2014

[SMS - Day 12] Senyummu

Ada satu hal yang tidak pernah bisa aku mengerti dari seorang Mark, ia tidak pernah terlihat tersenyum di depan semua orang. Ya, Semua orang di sekolah ini tahu bagaimana reputasi Mark sebagai sosok yang dingin dan tertutup. Semua orang tahu bagaimana ia membentengi dirinya dari interaksi dengan orang lain. Atau setidaknya semua orang mempercayai hal itu. Aku pun begitu, sampai dua minggu yang lalu. Sampai aku ditunjuk sebagai penanggungjawab buku tahunan untuk kelas kami, bersama Mark.

Aku baru tahu Mark bisa diajak bicara, dia bahkan cukup ramah. Mungkin selama ini semua orang salah mengartikan sifat pendiam Mark. Dan yang paling penting, dia bisa tersenyum. Dia tersenyum padaku. Senyum yang membuatnya terlihat, ehm, semakin tampan. Tiba-tiba Mark menoleh ke arahku, ia pasti merasa diperhatikan. Aku tersenyum padanya, dan ia pun balas tersenyum padaku. Di antara puluhan orang di kelas ini, ia tersenyum hanya padaku. Bolehkah aku merasa istimewa?

Sumber dari sini

Jumat, 31 Oktober 2014

[SMS - Day 11] Hadiah Terindah

Sumber dari sini

Huh, dasar Jae! Bukannya tadi di telepon dia bilang masih ada urusan dan akan datang terlambat? Kenapa sekarang dia sudah duduk di depan bersama gitar kesayangannya?! Jae mulai memetik gitarnya, membuatku mengerutkan kening dan berusaha menebak lagu apa yang dimainkannya. Jae melihat ke arahku ketika ia mulai bernyanyi. Tanpa sadar aku tersenyum ke arahnya, aku tahu lagu ini. Jae mengalihkan pandangannya pada sosok di sampingku, sosok yang menjadi alasannya menyanyikan lagu ini. Aku ikut menoleh, mengamati sosok itu. Ia tersenyum, matanya tak lepas dari Jae.

“Aku tidak menyangka ia akan menyanyikan lagu ini di hari ulang tahunku,” katanya sebelum berpaling menatapku. Senyum itu masih terukir di sana, hanya saja sekarang aku bisa melihat jelas matanya yang berkaca-kaca. Aku berusaha membalas senyumannya meski mataku pun mulai terasa panas. “Tapi ini hadiah terindah yang pernah aku dapat,” lanjutnya  sambil menyentuh kedua pundakku lembut. “Mendapatkan pria yang tepat untuk putri kesayanganku.”


I'm gonna marry your daughter and make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
(Marry Your Daughter - Brian McKnight)

Kamis, 30 Oktober 2014

[SMS - Day 10] Di Mana?

Sumber dari sini

Aku memperhatikan Jackson yang sedari tadi mondar-mandir di ruang tengah. Mulutnya tidak berhenti mengomel sejak tadi, soal buku-buku yang berserakan, bekas makanan yang tidak dibersihkan, baju-baju kotor yang tergeletak sembarangan, semua yang terlihat ia komentari. Tangannya sibuk membalik semua barang itu, sesekali melemparnya yang membuat ruangan itu semakin berantakan. Sudah lebih dari sepuluh menit dia melakukan hal tersebut. Tanpa bertanya pun aku tahu ia sedang mencari sesuatu. Tapi bukan Jackson namanya kalau tidak bodoh.

“Mau aku bantu?” tanyaku setelah tak tahan melihat tingkahnya. Jackson hanya melirikku sebal. Tanpa mendengarkan omelannya, aku melangkah ke arah pintu. Klik! Kutekan tombol di balik pintu dan seketika ruangan itu terang benderang. “Lihat, remote yang kau cari ada di atas sofa!”

Rabu, 29 Oktober 2014

[SMS - Day 9] Music is My Life

Setiap kali kau sebut namaku, aku mendengar lagu cinta ballad mengalun di telingaku.
Setiap kali kau berbicara padaku, aku mendengar rap yang cepat yang membuatku harus mendengarnya berkali-kali.
Setiap kali kau tersenyum padaku, aku mendengar musik up beat yang tanpa sadar mungkin berasal dari detak jantungku.
Setiap kali kau menggodaku, aku mendengar lagu pop dengan lirik aneh yang kubenci tapi diam-diam selalu kunyanyikan.
Setiap kali kau memelukku, aku mendengar musik jazz dengan alunan saxophone yang lembut.
Setiap kali kau menciumku, aku mendengar orchestra dengan perpaduan berbagai alat musik di sekelilingku.
Setiap kali kau mengatakan cinta padaku, aku mendengar melodi terindah yang tidak bisa aku deskripsikan.
Music is my life, and my life is you.

Sumber dari sini

Selasa, 28 Oktober 2014

[SMS - Day 8] Days Like Today


Sumber dari sini

Angin musim semi langsung menyapaku ketika aku membuka jendela pagi itu. Ini satu hari yang biasa, namun entah kenapa aku tiba-tiba teringat padamu. Cuaca hari ini tidak mendung. Aku pun tidak sedang mendengarkan lagu tertentu. Angin ini yang membawamu kembali padaku. Aku kira hari seperti ini tak akan datang lagi. Hari di mana pikiranku penuh akan dirimu. Hari di mana angin membawa rasa kesepian ke dalam hatiku yang tiba-tiba merindukanmu.

Senyummu masih tergambar jelas di benakku. Belaian lembutmu masih dapat kurasakan di wajahku. Kata-kata indah yang selalu kau bisikkan masih selalu kudengar. Sekuat apa pun aku berusaha menampik, rasa itu masih ada. Rasa itu akan selalu ada. Sepertinya aku tidak akan pernah bisa melupakanmu. Karena selama angin berhembus, hari seperti ini pasti akan selalu datang.

Senin, 27 Oktober 2014

[SMS - Day 7] Rumah?

Keluargaku jarang sepakat dalam suatu hal, kecuali fakta bahwa kami tidak memiliki rumah. Bukannya benar-benar tidak punya rumah, hanya saja kami tidak pernah merasa memilikinya. Aku ingat 18 tahun yang lalu kami masih memilikinya. Rumah dua lantai dengan taman kecil tempat aku bermain setiap sore. Sayangnya ketika krisis moneter datang dan ayah kehilangan pekerjaannya, kami pun harus pasrah kehilangan rumah itu. Bangun itu masih ada, tapi kami tak pernah menganggapnya sebagai rumah lagi. Ayah membongkar lantai satu bangunan itu menjadi sebuah toko swalayan kecil, membuat kami tergusus ke lantai dua. Tidak ada lagi ruang keluarga, tidak ada ruang tamu, tidak ada kamar mandi besar dengan bathtub, dan tak ada lagi taman kesayanganku. 

Sekarang, saat kami semua sudah merantau ketempat yang berbeda-beda, kembali kesana adalah satu hal yang paling kami tunggu-tunggu. Mungkin kami tidak mau mengakuinya sebagai rumah, tapi disanalah satu-satunya tempat kami bisa berkumpul. Bagaimanapun kondisinya, kami akan selalu kembali kesana untuk pulang. 

Sumber dari sini

Minggu, 26 Oktober 2014

[SMS - Day 6] Keep Your Ship Sailing

Kau tahu, hidupmu bagaikan sebuah perahu. Ya, perahu. Dengan kau sebagai nahkoda yang akan mengatur kemana arah perahumu berlayar. Perjalanan perahumu mungkin tidak mudah, banyak ombak menerjang dan karang menghadang, tapi yakinlah semua itu akan membuatmu menjadi nahkoda yang tangguh. 

Semua perahu punya pelabuhan tujuan, begitu juga dengan perahumu. Namun jangan pernah puas dengan satu pelabuhan, teruslah mencari pelabuhan-pelabuhan lain untuk tujuanmu selanjutnya. Kau benar, perahumu mungkin akan aman jika kau taruh di pelabuhan, tapi dia tidak dibuat untuk itu. Dia dibuat untuk menemanimu berlayar. Jadi, jangan pernah menyerah dalam mengarungi lautan. Before your ship sinking, try to keep it sailing.

Sumber dari sini

Sabtu, 25 Oktober 2014

[SMS - Day 5] You are My Band-aid

Sumber dari sini

Aku memandang plester luka di tanganku dan tersenyum. Bayangan kejadian beberapa saat yang lalu masih terlihat jelas di benakku. Dia menabrakku! Dia yang selama ini hanya kupandangi dari jauh. Dia yang selama ini aku kagumi tanpa berani kudekati. Kami bertabrakan! Bukannya aku suka ditabrak, tapi kalau dia yang menabrakku, berkali-kali pun aku tidak keberatan. Apalagi jika kami bisa mengobrol setelahnya seperti tadi. Dia bertanya apa aku baik-baik saja. Dia bahkan terlihat cemas sekali. Dan senyumnya saat memberikan plester luka ini... ugh, aku tidak akan pernah melupakannya. Akan aku simpan senyum itu selamanya dalam ingatanku. Bersama plester luka ini.

"Kau gila?! Tanganmu terluka dan kau malah senyum-senyum sendiri menatap plester luka itu?!" Aku menatap temanku tak suka, lalu ganti melirik luka di tanganku dan kembali tersenyum. Darahnya masih agak basah, tapi aku sama sekali tidak merasakan sakit atau pun perih. Interaksiku dengannya tadi menghilangkan semua rasa sakit yang aku rasakan. Mungkin aku memang sudah gila.

Jumat, 24 Oktober 2014

[SMS - Day 4] Like A Butterfly

Sumber dari sini

Aku tersenyum, pemandangan di hadapanku sungguh menakjubkan. Ratusan orang bertepuk tangan untukku. Belum lagi membayangkan mereka yang melihatku dari layar kaca. Ucapan selamat terus terdengar. Tak henti-hentinya pujian datang. Mereka bilang aku pantas mendapatkannya. Ya, aku pantas mendapatkannya, setelah apa yang aku lewati selama ini.

Tak ada yang tahu perjalanan panjang yang harus aku lewati untuk kesuksesan ini. Awalnya semua menentang, memandang sebelah mata. Namun dengan tekad aku menjalaninya. Aku hanya ingin melakukan apa yang aku mau, melakukan apa yang aku suka. Ini hidupku. Dan sekarang aku membuktikan, aku bisa membuat semua bangga dengan caraku sendiri. Now i can fly, like a butterfly.

Kamis, 23 Oktober 2014

[SMS - Day 3] Hide

Oke, dia pasti tidak akan menemukanku di sini. Biar saja nanti dia bingung mencariku, siapa suruh tadi pagi dia tidak mengacuhkanku. Padahal aku sudah berusaha menarik perhatiannya tapi dia langsung pergi tanpa bicara apa-apa. Seharusnya dia tahu aku benci diabaikan. Nah, sepertinya dia sudah pulang. Bisa kudengar dia mulai memanggil-manggil namaku. Huh, dia pikir aku akan datang memenuhi panggilannya? Jangan harap. Sampai dia panik dan menangis pun aku tidak akan mun– 

“Ah, disini kau rupanya!” Bagaimana… bagaimana mungkin dia menemukanku? Aku kira celah antara lemari baju dan meja belajarnya adalah tempat paling sempurna untuk bersembunyi. Ugh, dia mulai memeluk dan membelai kepalaku. Memangnya aku akan luluh? Aku berusaha melepaskan pelukannya, tapi dia malah membawaku keluar dari kamarnya. Pokoknya aku tidak akan memaafkannya, apa pun yang ter– hei, apa itu di atas meja makan? Apa dia membelikannya untukku? Oh baiklah, aku memaafkannya. Mana mungkin aku bisa menolak makanan kucing mahal kesukaanku itu.

Sumber dari sini

Rabu, 22 Oktober 2014

[SMS - Day 2] Langkah Bersamamu


Kuraih sepatu olahraga berwarna putih abu-abu biru dari bawah kursi, sepatuku satu-satunya. Warnanya sudah tidak cerah lagi, maklum umurnya sudah lebih dari lima tahun. Pengait talinya beberapa bahkan sudah putus dan membuat jalurnya terlihat aneh. Sol depannya sudah mulai terbuka, kelupas juga terlihat di beberapa tempat. Tanpa sadar aku menghela napas sebelum akhirnya kupakai sepatuku. 

Aku ingat dulu ibu sengaja membelikan sepatu ini dengan nomor yang lebih besar agar aku bisa memakainya lebih lama. Siapa sangka mereka benar-benar menemaniku selama ini. Ya, selama ini, aku bisa menghitung waktunya. Namun aku tak tahu sudah sejauh mana aku mengajak mereka melangkah. Rasanya aku selalu berada di tempat yang sama, tak ada yang berubah dalam jangka waktu lima tahun bersama mereka. Sekali lagi aku menghela napas seraya beranjak dari ambang pintu, tempatku merenung sejak tadi.  Aku mulai mengajak mereka melangkah, dalam hati aku terus berdoa agar langkahku bersama mereka tak ada yang sia-sia.