Senin, 04 Juni 2012

[Short Story] UNO!

UNO! (sumber dari sini)

UNO!
Wafda S. Dzahabiyya

“Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Yaah, memang diambil dari kisah nyata, tapi dengan tambahan bumbu-bumbu agar lebih sedap. Mohon maaf jika ada kesamaan nama, karakter, ataupun tempat karena itu memang disengaja.”

H-59

“Jadi, ada yang punya ide untuk tema acara kita tahun ini?” tanya Mas Miftah setelah bercerita panjang lebar tentang tema acara tahun-tahun sebelumnya.

Semua orang di ruangan ini diam. Semua tampak berpikir, walaupun entah apa yang dipikirkan. Aku yang memang tidak kreatif untuk urusan memberi nama seperti ini memilih ikut bungkam.

“Ayolah, acara kita kurang dari 2 bulan lagi! Bahkan tema aja kita belum punya…,” sentak Mas Mif sedikit keras.

Huh, dia sendiri gak ngasih ide, batinku dalam hati. Ketua kami yang satu ini memang sedikit emosian, kadang-kadang jengkel juga menghadapinya. Semua tetap diam, masih sibuk berpikir.

Aku meraih tumpukan kartu uno dari atas meja di dekatku. “Main uno yuk!” cetusku iseng sambil mengocok kartu.

“Malah main uno!” bentak Mas Mif sambil membanting kertas yang dipegangnya.

“Widih, nyantai loh mas…. Kasian tuh pada tegang gitu,” sindirku.

“Uno, presenter, news reader, announcer, uno, hmm,” gumam Irfan yang duduk disebelahku. “Aha! UNOuncer! Gimana kalau temanya UNOuncer aja?!” teriaknya tiba-tiba.

Krik krik krik…. Semuanya diam, saling pandang.

“Apa maksudnya tuh tema UNOuncer itu?” tanya Anind akhirnya.

Irfan tersenyum, merasa kalau tema pemberiannya akan dipakai. “Uno kan artinya satu, lihat kartu uno ini, beda-beda kan?” katanya sambil merebut beberapa kartu dari tanganku. “Ini menggambarkan peserta Broadcaster Award yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Apalagi tahun ini kita sampai Jawa Timur juga, makin beragam dong peserta kita? Nah, walaupun mereka berbeda-beda, tapi mereka sama-sama berjuang untuk satu tujuan, jadi nomer satu! Uno!” jelasnya panjang lebar dan diakhiri dengan berteriak ‘uno!’ sambil membanting kartu-kartu ditangannya.

“Iya, iya… tapi ga usah pake acara ngeberantakin kartu bisa kan?” sindirku sambil membereskan kartu-kartu yang berserakan di depanku.

“Hahaha, piss nyu…” kata Irfan dengan tampang tak berdosa sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya.

“Ada yang punya ide lain?” tanya Mas Mif. Anak-anak kompak menggeleng. Sepertinya semua sudah menyerah kalau harus mencari ide yang lain lagi.

“Oke, berarti semua setuju ya dengan UNOuncer? Kalau begitu diputuskan tema Broadcaster Award tahun ini UNOuncer!” kata Mas Mif memutuskan. Semua tepuk tangan, gembira karena rapat kali ini paling tidak membuahkan hasil walaupun cuma sebuah tema.

“Tuh kan, coba kalau aku ga iseng ngajak main uno… kita ga akan dapet tema deh sampe besok,” celetukku yang langsung disambut pelototan semua orang.

***

H-46

“Kita gabung sama CF!” kata Mas Mif membuka rapat hari ini.

Communication Fiesta, sebuah acara yang sebenarnya merupakan obsesi dari para pemegang kekuasaan di jurusan itu akhirnya benar-benar harus kita jalankan. Beberapa waktu yang lalu Mas Mif memang pernah bercerita kalau kemungkinan besar acara kita akan dimasukan dalam CF, bergabung bersama CEO yang ‘ditodong’ jurusan untuk mengadakan acara demi mengisi CF ini.

“Terus komentar para sesepuh gimana Mif?” tanya Mbak Nai hati-hati.

“Aku udah ceritain kondisi kita ke mereka. Waktu kita mepet, kita ga akan sempat kalau harus cari sponsor sendiri. Kalau kita gabung dengan CF, dana ditanggung aman. Jadi, mau ga mau mereka harus setuju,” jelasnya.

“CEO sendiri jadinya mau ngadain apa?” giliran Adi yang bertanya.

“Mereka udah fix mau ngadain lomba debat. Targetnya anak SMA se Jogja, Jateng, dan Jatim, sama kaya kita. Jadi surat untuk sekolah bisa kita kirim bareng-bareng. Data sekolah udah siap Dil?”

“Udah, yang mau dikirim udah siap, yang di jogja tinggal dibagi siapa yang mau nganter. Tapi kalau kita gabung sama CF berarti suratnya semua harus diganti,” jawab Dila, sang sekretaris, tanggap.

“Oh iya bener…. Proposal juga harus diganti. Kemaren aku udah minta sama Mas Sakti, ketua CEO, buat nyerahin proposal mereka. Jadi nanti tinggal digabung aja. Susunan panitianya juga, Mas Sakti setuju aku jadi ketua, tapi dia ditulis jadi sekretaris, bendaharanya tetep kamu ya Na? Biar nanti kita gampang kalau butuh uang.”

“Iya…” jawab Ana malas.

“Berarti yang ngerjain proposal dan surat segala macem itu Mas Sakti?” tanya Dila semangat.

“Tetep kamu Dil, itu cuma formalitas.”

“Heh, apa-apaan itu…” Dila mencoret-coret catatannya, tiba-tiba kehilangan semangat lagi.

“Nanti desain poster juga diganti ya Bay, nanti aku minta materi CEO. Sehari jadi bisa kan?”

Bayu cuma bisa ngangguk pasrah tanpa banyak komentar. Tumben dia manutan gitu.

“Blog, twitter, facebook gimana kabarnya Wafda?” waduh, aku kena juga akhirnya.

“Hmm, mereka baik…,” jawabku sok polos.

“Kalau poster diganti ya aku tinggal nunggu gantinya. Mekanisme masih tetep toh? Oh iya, paling surat delegasi tuh yang belum,” kataku buru-buru ketika melihat Mas Mif sudah siap mengamuk. “Kemaren udah ada beberapa yang nanya-nanya, langsung aku suruh hubungi contact person aja, Mbak Indah sama Mbak Desi.”

“Ndah, Des, gimana?”

“Iya Mif, kemaren udah ada yang nanya sama aku, dari Malang. Katanya dia mau nyari temen dulu,” lapor Mbak Indah.

“Kalau ke aku ada yang nanya tapi dia mahasiswa, mana ngotot lagi mau ikutan. Udah jelas lombanya buat anak SMA…” cerita Mbak Desi.

“Ya udah terima aja, tapi suruh dia pake baju SMA…” komentar Adi.

“Kita ga kekurangan peserta sampe segitunya kali Di…” kata Tika.

“Bener juga tuh, kalau kita kekurangan peserta, suruh aja unyu pake seragam SMA…. Pasti masih pantes, hahaha…” kali ini Irfan meledekku. Sial….

“Bilang aja kamu juga pengen dibilang masih pantes pake seragam SMA…. Sayangnya Fan, walaupun tinggi kita hampir sama, tapi mukamu udah ga pantes…” balasku sewot.

“Wah, itu dalem banget Fan…. Hahaha…” Adi tertawa puas. Diikuti dengan tawa yang lain.

***

H-31

“Mendekati acara kok malah pada jarang nongol, seksi acaranya juga ngilang ga bisa dihubungi…” omelku. “Lagian ya, aku ini kan seksi dokumentasi, kenapa juga harus ngurusin promosi di blog, twitter, facebook, dan segala macemnya itu.”

“Hahaha, masih mending lah Da…. Daripada Mbak Indah, segalanya dia yang ngurusin. Aku aja sampe ga tahu dia sebenernya seksi apa,” kata Tika.

“Iya ya, kasian juga Mbak Indah, mana sering banget kena omel Mas Mif…. Aduh, panitianya aja udah ga beres gini….”

“Iya nih, udahlah bubarin aja BA…. Biar aku bisa pulang ke Bengkulu!” sahut Tika sedikit ketus.

Saat ini kami berdua tengah duduk santai di lobi. Berusaha menghindari Ikom Radio biar ga kena amukan Mas Mif. Beberapa hari belakangan, sang ketua itu memang sering ngamuk gara-gara yang hadir di rapat makin lama makin berkurang. Siapa saja bisa jadi korban amukannya, tapi yang paling sering sih ya Mbak Indah.

“Bang Rustam!” teriak Tika memecahakn keheningan yang sempat tercipta diantara kami. Kulihat Bang Rustam muncul dari balik tangga.

“Hai!” sapanya sok cool.

“Abang, ayo ngomong sama anak magang soal bumper…” teriak Tika lagi sambil berlari menghampiri Bang Rustam.

Tika, Tika…. Omongan dan perbuatannya bertolak belakang. Katanya bubarin aja BA, tapi ternyata dia masih peduli tuh.
“Unyu, ngapain disini?!” tanpa menoleh pun aku tahu siapa pemilik suara ini.

“Unyu, unyu, namaku bukan unyu!” kataku kesal.

“Hahaha, nyantai loh nyu….” Adi tertawa melihat reaksiku saat dipanggil Irfan tadi. Dua sekawan ini memang nyaris tak terpisahkan.

“Kok ga ke radio?” tanya Irfan.

“Males, takut kena amukan nyasar…” sahutku cuek.

“Yee, kalau kita ga datang dia malah makin ngamuk. Kan kasihan Indah kena imbasnya mulu. Ayo ah, ke radio…” kata Adi sambil menyeretku pergi.

Sebenarnya aku malu juga dibilang begitu. Mereka yang bukan anak komunikasi saja mau berjuang demi acara ini. Kenapa aku yang anak komunikasi malah males….

“Loh, ga ada Mas Mif?” tanyaku heran saat masuk ke Ikom Radio. Hanya ada Mbak Indah, Dila, dan Ana yang tampak sibuk sendiri-sendiri.

“Miftah ngilang, ga bisa dihubungi…” jawab Mbak Indah, tampaknya dia sedikit kesal. “Ini surat belum ditanda tangan, katanya disuruh nyebar sekarang. Dasar dia tuh!”

“Udah Mbak, sini aku yang tanda tangan…” kata Dila santai sambil menyiapkan stempel.

“Beneran nduk? Kamu bisa tanda tangan Miftah?” tanya Mbak Indah tak percaya.

“Sekarang kan Dila ahli meniru tanda tangan Mbak…” sahut Ana sambil tetap fokus pada laptopnya.

“Pokoknya tenang aja Mbak, dia mau ngambek trus ngilang gimanapun kita tetep masih bisa jalan kok…” kata Dila santai. “Emangnya dia pikir kalau dia ngilang kita bakal heboh gitu?”

Aku, Ana, Irfan, dan Adi saling pandang. Waduh, sadis juga nih Dila.

***

H-21


Rapat kali ini pun kembali berjalan dengan jumlah anggota yang minim. Untungnya hari ini Anind, sang seksi acara, hadir.

“Surat untuk sekolah udah dikirim semua?” tanya Mas Mif.

“Untuk yang luar Jogja udah semua, yang di Jogja masih ada beberapa yang belum,” jawab Dila.

“Minggu ini harus udah beres ya. Aku ga mau liat masih ada surat di Ikom,” kata Mas Mif lagi.

Beuh, enak betul dia bisa ngomong begitu. Padahal dia sama sekali ga bantu nyebarin, batinku kesal.

“Permisi Mbak, Mas…”

Kami semua menoleh kearah pintu, tampak seorang anak laki-laki berdiri disana.

“Aah, kamu yang sms itu ya? Ayo masuk, masuk…” sambut mbak Indah sambil bangkit berdiri. “Kedalem aja yuk…”

Anak itu berjalan melewati kami sambil tersenyum. Mbak Indah membawanya masuk ke kantor Ikom untuk melakukan pendaftaran.

Rapat kami lanjutkan. Sekarang giliran Anind membahas soal keseluruhan susunan acara. Belum lama, Mbak Indah keluar dari kantor Ikom.

“Mif, ternyata anak itu tuh baru lulus SMP. Gimana dong?” tanya Mbak Indah.

“Anak cowo itu Mbak?” tanyaku sambil mengerling kearah kantor Ikom.

“Iya nduk…. Gimana nih Mif?”

“Lah, kamu yang gimana Ndah…. Kenapa ga tanyain sebelumnya?” tanya Mas Mif dengan nada tinggi.

“Udah Mif, tapi dia tuh ga jawab. Makanya aku suruh dia datang kesini aja. Gimana dong Mif?”

“Ya bilang aja ga bisa. Acara kita kan emang untuk anak SMA….”

“Tapi kasian loh Mif, dia udah jauh-jauh dari Gunung Kidul….”

Brakk…


Semua terperanjat saat Mas Mif menggebrak panggung kayu yang ia duduki dengan keras. Aku bahkan bisa melihat debu-debu beterbangan dari panggung kecil itu.

“Kalau dibilang ga bisa ya ga bisa Indah! Salahmu sendiri kenapa ga nanya dulu!” bentak Mas Mif keras.

Dan pertahanan Mbak Indah pun jebol. Sekuat apapun dia, ini memang sudah keterlaluan. Mbak indah langsung lari keluar. Aku bisa melihat dia mulai menangis saat berdiri tadi.

“Dasar Indah tuh ga bisa dibilangin!” kata Mas Mif ketus.

Kita semua saling pandang. Serba salah rasanya.

“Mas Mif juga keterlaluan. Ga usah pake ngegebrak bisa kan? Ga tau apa disini tuh ada anaknya. Dil, coba kamu kedalem, bilangin sama anaknya dia ga bisa daftar tahun ini, suruh ikutan tahun depan aja gitu,” kata Anind dengan sigap mengendalikan situasi.


Dila berdiri, baru saja hendak melangkah, dari dalam kantor Ikom keluar anak tadi bersama Mas Nana. Anak itu memandang takut-takut kearah Mas Mif dan tersenyum kaku kearah kami. Mungkin dia sedikit mendengar pertengkaran tadi.

Setelah mengantarkan anak tadi sampai depan Mas Nana berhenti sebentar didekat kami.

“Kenapa? Kok ga dilanjutin rapatnya? Ayo dilanjutin, tapi kayanya kamu aja deh yang mimpin Nind. Ga baik kalau orang yang lagi emosi mimpin rapat…” kata Mas Nana cuek lalu kembali masuk ke kantor Ikom.

Kami semua saling pandang lagi dan tersenyum. Mas Nana memang selalu punya cara sendiri untuk menghibur kami. Harusnya Mas Mif belajar dari ketua Ikom sebelumnya ini.

“Yuk kita lanjutin, sampai mana tadi?” tanya Anind semangat.

***

H-1

Entah keajaiban apa yang membuat kami bisa bertahan sampai saat ini. Yang jelas disinilah kami, di ruang multimedia untuk melakukan evaluasi setelah seharian ini pembukaan CF dan technical meeting dilaksanakan.

“Oke, kita mulai aja ya evaluasinya…” kata Mas Mif membuka acara.

“Oh ya sebelumnya, aku duduk disini ya…. Biar sejajar gitu ketua Ikom Radio sama CEO,” kata Mas Sakti sambil menarik kursi sejajar dengan Mas Mif.

“Haha, iya Mas…. Ayo, ada yang mau mulai ngomong?”

“Aku Mif…” Mbak Indah mengacungkan tangannya. “Ini soal pembagian kerja tadi, aku ngerasa tadi tuh yang sibuk ngurusin anak-anaknya cuma kita aja dari Ikom Radio. Anak-anak CEO pada kemana? Ini kan acara kita bersama, tadi itu juga ada peserta dari debat kan. Kenapa cuma kita yang sibuk ngurusin?”

“Aku masuk ya?” kata Anind. “Menurutku sih kita cuma kurang kordinasi aja. Soalnya tadi juga ada peserta debat yang nanya soal acaranya dan kita ga ngerti apa-apa. Jadi sebenernya kita harus inget, sekarang kita bukan lagi bawa nama Ikom Radio atau CEO. Sekarang kita udah dalam satu kesatuan Communication Fiesta. Gitu aja sih menurutku.”

“Ya, Mas Sakti atau teman-teman dari CEO ada tanggapan?” tanya Mas Mif memoderatori.

“Iya, mewakili CEO aku minta maaf atas ketidak nyamanan tadi. Benar kata Anind, kita memang kurang kordinasi. Besok dan lusa kan acara masing-masing, jadi aku jamin ga ada hal seperti tadi. Sekarang kita tinggal fokus kordinasi untuk acara awarding. Ya kan Mif?” tanya Mas Sakti menutup pembelaannya.

“Iya, yang udah lewat biarlah berlalu, sekarang kita fokus untuk acara yang lebih besar, awarding night!

***

H1

“Loh Dil, kok masih ditutup? Acaranya batal?” tanyaku begitu kami keluar dari lift. Ruang pertemuan di gedung AR. Fachrudin ini masih sepi. Tirainya saja bahkan masih tertuup dengan rapi.

“Batal, batal, sembarangan aja kalau ngomong!” seru Bang Rustam yang tiba-tiba muncul dihadapan kami.

“Abang datang dari mana?” tanyaku heran.

“Tadi aku baru mau kebawah lewat tangga pas denger kalian datang. Ini ga ada kuncinya…”

“Hah, ga ada kuncinya? Bukannya kemaren Abang yang bawa?” tanya Dila panik.

“Kemaren kan udah aku balikin sama Miftah pas kita pulang beres-beres itu. Tapi tadi aku tanya satpam kuncinya ga ada, mungkin udah diambil cleaning service buat dibersihin. Eh, pas aku kesini ga ada orang dan pintunya masih ke kunci. Makanya sekarang aku mau cari cleaning service…”

“Abang udah telpon Mas Mif?” tanya Dila lagi.

“Udah, kalian tunggu disini ya, aku turun dulu…” kata Bang Rustam lalu pergi meninggalkan kami berdua disini.

“Wah, piye iki Dil?” tanyaku bingung.

“Peserta! Gimana kalau mereka keburu datang?!” tanya Dila balik. Aku melirik jam tanganku, sudah jam 07.30.

“Yang di unires suruh dibawa ke radio aja dulu Dil, ngapain kek gitu…” usulku.

“Oh iya, suruh dikenalin sama alat-alatnya aja ya…. Kalau gitu aku telpon Mbak Vera yang lagi jaga di unires deh.” Dila mulai mencari nomer Mbak Vera di handphone-nya dan menelepon sang seksi konsumsi.

Tiing….

Pintu lift terbuka, muncul Mas Miftah, Tika, Irfan, Adi, Bayu, dan Anind.

“Mana Rustam?” tanya Mas Mif tiba-tiba.

“Tadi ke bawah, nyari cleaning service,” jawabku.

Mas Mif berjalan mendekati pintu, didorongnya pintu itu dengan kasar. Setelah itu dia pergi keluar melalui pintu dibelakang meja penerima tamu, entah kemana.

“Anak-anak yang di unires gimana Dil?” tanya Anind.

“Aku udah telpon Mbak Vera, mereka aku suruh ke Ikom dulu buat dikenalain alat-alat.” Jawab Dila.

“Kalau gitu aku ke Ikom ya…. Bay, kamu bisa siapain disini kan?” kata Anind lagi.

“Oke siap! Ada Irfan sama Adi juga kok…” jawab Bayu.

Belum lama Anind pergi, Mas Mif tiba-tiba muncul dari pintu ruang pertemuan. Digedor-gedornya kaca untuk memanggil kami. “Lewat sini bisa…” teriaknya.

Kami saling pandang lalu pergi melewati jalan tempat dia pergi tadi. Kami berjalan menyusuri jalan kecil di depan ruangan itu, dan sampailah kami di sisi lain ruangan. Pintu sebelah sini terbuka.

“Nanti registrasinya disini aja. Siapin mejanya! Bay, Fan, siapin alat buat presentasi pembicara, laptop siapa yang dipake?” atur Mas Mif.

“Laptopku Mas!” seru Tika. Diapun pergi kembali ketempat tadi untuk mengambil tasnya yang ditinggal disana.

“Wah, tas kita semua ada disana!” kata Dila.

“Biar aku ambil…. Kalian siapin mejanya aja disini,” kataku sambil pergi menyusul Tika.

Baru saja aku kembali dengan setumpuk tas tiba-tiba pintu sebelah sana terbuka. Muncul Bang Rustam dengan beberapa orang bapak pengurus gedung. Disusul dengan kehadiran Mbak Indah bersama salah satu pembicara kami hari ini.

“Wah, Mas Ferry aja udah datang…” kata Dila.

“Itu toh yang namanya Ferry Anggara?” tanya Adi. “Agak ngondek ya….”

“Wooo, ngaca Di!” kataku sambil tertawa.

“Kita jadi pake pintu yang disana. Disini udah biarin aja…” kata Mas Mif yang datang tiba-tiba.

Biarin aja? Udah capek-capek bolak-balik bawa tas segini banyak dan dia bilang biarin aja? bantinku gedek.

“Ayo nyu…” seru Adi.

“Adi, bantuin ini bawa tas!” geramku. “Sial udah lari-lari juga tadi, malah disuruh balik lagi.”

“Biarlah nyu, biar kamu gede dikit…. Hahaha,” ledek Adi.

“Apa hubungannya?!”

Kuhempaskan tubuhku dikursi, akhirnya bisa istirahat. Semua tas dan berkas registrasi hari ini sudah kuatur. Tinggal nunggu peserta datang.

“Coba kamu ke Ikom Da, panggil pesertanya. Kita udah siap kan?” suruh Dila.

“Kenapa ga telpon aja sih Dil? Atau SMS kek gitu…. Cape ini dari tadi aku bolak-balik, mana lapar lagi…” protesku.

“Oh iya ya…” Dila nyengir dengan tampang tak bersalah.

Tiing….

“Ada yang mau makan?” tanya Mbak Vera yang muncul dari dalam lift dengan beberapa kotak nasi.

“Mau!” seruku girang. Gini nih enaknya BA, walaupun capek lahir batin, tapi kebutuhan perut dijamin. Paling ga makan dua kali sehari plus snack, hehehe.

***

H2

Aku melirik jam di pergelangan tanganku, jam 07.23.

Bagus, udah jam segini tapi belum ada orang. Gila, emang pada gila semuanya, batinku kesal.

“Aduh, kok belum ada orang sih?” tanya Dila cemas. “Lab TV udah beres belum ya? Mas Aji sama Mas Rohmat kemana lagi?”

“Kalian kok baru datang sih?” tanya Bang rustam yang muncul tiba-tiba dibelakang kami.

“Abang! Abang udah dari tadi?” tanyaku.

“Iyalah, aku bahkan sempet sarapan dulu tadi di kantin,” katanya cuek. “Radio udah siap, aku mau cek Lab TV tapi dikunci. Yang pegang kuncinya siapa toh?”

“Mas Aji sama Mas Rohmat…. Mereka SMS masih on the way katanya,” jawab Dila.

“Kenapa dari kemaren masalahnya kunci mulu sih?” tanyaku heran. “Dan kenapa dari kemaren orangnya selalu kita bertiga?”

“Oh, kamu ga suka? Ya udah aku pulang aja…” kata Bang Rustam.

“Yee, pundungan ih si Abang mah…” ledekku.

“Tapi untung cuma kita bertiga, coba kalau ada Mas Mif…. Pasti udah ngamuk-ngamuk dia liat belum ada orang gini,” kata Dila.

“Tapi kalau kaya kemarin nih ya, berarti nanti Mbak Vera datang bawa makanan lagi dong?”

“Wooo, ngarep…” sorak Dila dan Bang Rustam kompak.

***

H3

“Mbak, dicariin Mas Sakti tuh,” kataku pada Mbak Nene yang sibuk membuat kartu nominasi bersama Dila.

“Oh iya, ini belum selesai…. Gimana kalau kamu yang selesain? Tinggal yang dari debat kok…. Ntar aku SMS-in nama pemenangnya,” pinta Mbak Nene.

“Kenapa ga Dila aja?” tanyaku heran.

“Dila juga mau kebawah. Dia juga kan nanti baca nominasi.”

“Iya deh, mana sini…. Tinggal print aja kan?” tanyaku.

“Nanti udah diprint kamu bentuk kaya gini Da…” Dila menunjukkan salah satu contoh kartu yang sudah jadi.

“Oke, tinggal yang debat aja kan?”

“Yang BA udah, tapi belum dilipet…. Tolong ya Da…” kata Dila lalu pergi dengan Mbak Nene, meninggalkanku sendiri di kantor Ikom yang sepi.

Yang lain udah sibuk dibawah aku malah ngurusin beginian, batinku.

“Unyu, sendirian aja…”

Wah, trio pengacau datang…. “Mas-mas yang baik, tolong jangan ganggu ya…. Saya sedang sibuk.”

“Dih, siapa juga yang mau gangguin situ…” kata Mas Fikra menyebalkan.

“Wah, ini ya slayer panitia? Kita dapet juga dong?” tanya Mas Anom sambil membongkar kresek berisi slayer.

“Ambil Mas, ambil…. Tapi bantuin dulu sini…”

“Dih ogah!” kata Mas Fikra lagi. Orang ini memang paling menyebalkan sedunia.

Aku pindah kedepan, mulai memotong, melipat, dan mengelem kertas sesuai contoh yang diberikan Dila. Lagi sibuk dengan urusan ini tiba-tiba bola melayang disebelahku.

“Mas Anom, Mas Nana, Mas Fikra…. Kalau ga mau bantuin ya udah, tapi jangan ganggu juga dong! Malah main bola disini! Udah pada kebawah aja gih!” teriakku kesal.

***

“Ini Mbak…” aku menyerahkan kartu nominasi pada Mbak Nene di ruang tunggu pembaca nominasi.

“Makasih ya Wafda…. Udah kamu ke bawah aja, bantuin disana,”

“Iya Mbak…” jawabku manut.

Aku turun kebawah, acara sebentar lagi akan dimulai.

“Wafda!” Mbak Noni melambaikan tangannya memanggilku. Segera aku hampiri dia di meja hadiah.
“Kenapa Mbak?” tanyaku.

“Uang buat hadiah BA mana? Nominasi pertama dari BA loh…” katanya.

“Loh, emang Ana belum ngasih Mbak?”

“Ya mana Mbak tahu…”

Aduh, gawat…. Ana dimana pula?
batinku panik. Terdengar Adi dan Mbak Entet sudah mulai membuka acara.

Aku berlari kembali ke kantor Ikom di atas dan mendapati Ana sedang menghitung uang bersama Mas Fikra.

“Ana! Uang pemenangnya mana? Acara udah mulai itu…” seruku panik.

“Selow loh nyu…. Ini juga si Nur lagi ngitung duitnya,” kata Mas Fikra.

“Wah, ga adil nih mas…. Masa tadi aku digangguin, Ana malah dibantu…. Curang,” kataku sebal melihat Mas Fikra yang dengan anteng membantu Ana menghitung uang.

“Dia ga berani gangguin aku nyu, soalnya urusannya sama duit…. Hahaha,” ledek Ana. “Nih, udah! Penyiar radio, pembaca berita, presenter infotainment…. Nanti pas ambil uang suruh mereka tanda tangan trus ambil kwitansinya.”

“Siap bos!” seruku lalu langsung berlari ke bawah lagi.

Pas! Batinku saat tiba dibawah. Baru saja pasangan Pak Zuhdan dan Mbak Nai membacakan nominasi juara dua penyiar radio. Dilayar sekarang muncul bumper nama-nama nominator.

***

Acara berlangsung meriah. Aku bahkan bisa melihat Pak rektor tertawa menikmati lelucon dari Mas Zuli dan Mas Koko yang membacakan nominasi juara satu pembaca berita. Tapi rasanya ada yang aneh….

“Mbak, kok kayanya tadi ada yang salah ya?” tanyaku pada Mbak Noni.

“Salah apa?”

“Yang sebelum ini…. Kayanya yang baca nominasi harusnya bukan itu deh,” kataku sedikit tak jelas.

“Dila sama Pak Iqbal batal tampil,” kata Mbak Nene.

“Loh, kenapa Ne?” tanya Mbak Noni.

“Pak Iqbal dilarang tampil sama jurusan. Ga ngerti lah aku, mungkin soal konflik mereka itu. Dila aja sampe nangis di atas. Dia ga mau kalau tampil sendiri, jadi dua-duanya diganti.”

Ya ampun, kenapa disaat seperti ini jurusan tega banget. Padahal tadi aku liat Pak Iqbal semangat sekali saat latihan dengan Dila. Kasian Dila….

***

Aku melihat sekeliling. Anak-anak sudah tertidur lelap semua. Semua pasti lelah jiwa raga setelah seharian ini kerja keras banting tulang melaksanakan awarding night. Kami semua memang memutuskan untuk tidur di Ikom Radio karena sudah terlalu malam untuk pulang. Apalagi untuk anak kost sepertiku, jam 10 saja pintu kost sudah dikunci.

Aku menghela napas, entah kenapa aku tidak bisa tidur. Aku berjalan masuk ke kantor Ikom. Iseng aku mengambil setumpuk kartu uno yang tergeletak sedikit berantakan diatas meja. Aku tersenyum. Tiba-tiba aku teringat dengan tema acara kita, UNOuncer.

“Uno kan artinya satu, lihat kartu uno ini, beda-beda kan? Ini menggambarkan peserta Broadcaster Award yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Apalagi tahun ini kita sampai Jawa Timur juga, makin beragam dong peserta kita? Nah, walaupun mereka berbeda-beda, tapi mereka sama-sama berjuang untuk satu tujuan, jadi nomer satu! Uno!”

Aku masih ingat penjelasan Irfan yang menggebu-gebu itu. Sekarang aku sadar, tema itu sebenarnya bukan hanya untuk para peserta tapi juga untuk kami, panitianya. Kami semua berasal dari berbagai daerah. Bahkan hampir tidak ada yang sama. Kami semua memiliki karakter yang berbeda-beda, tapi kami berusaha untuk satu tujuan, menyukseskan acara ini.

Ini memang bukan hal yang mudah. Apalagi setelah kami harus bergabung dengan CEO. Ideologi serta cara kami yang berbeda mungkin kadang menimbulkan konflik. Tapi mau tak mau kami harus bersatu demi acara ini. Belum lagi kami harus berhubungan dengan jurusan. Cara pikir kami yang berbeda kadang saling berbenturan. Karena itulah muncul peristiwa Pak Iqbal tadi. Hah, aku jadi sedih kalau ingat Pak Iqbal.

Kuletakkan kembali kartu uno ini pada tempatnya. Yah, sekarang kami sudah bisa lega, acara ini terselenggara dengan seukses. Paling tidak itulah yang dilihat orang luar kan? Sekarang tinggal santai menyambut liburan panjang…. Eh, masih harus ngurus LPJ deng.

***

“Sekali lagi, cerita ini mungkin diambil dari kisah nyata, tapi perlu diingat ada bagian yang dilebih-lebihkan dan ada pula yang dikurang-kurangi. Jadi dimohon untuk tidak percaya seratus persen bahwa memang ini yang terjadi saat CF kemarin. Terima kasih….”

Jumat, 27 April 2012

[Touch Korea Tour] It’s Must Me! Why?

Korea Tourism Organization Indonesia mencari satu orang wakil untuk ikut dalam Touch Korea Tour. Kalau kamu merupakan salah satu "korban" Hallyu, ayo ikut dan rasakan pengalaman menjelajahi Tempat Wisata Korea Selatan. Buzz Korea!
Yak, sebagai salah satu peserta Pemilihan Touch Korea Tour Pengalaman Tim Event ga afdol rasanya kalau aku ngga “menjual” diriku. Karena itulah, dipostingan kali ini aku akan mempromosikan diriku agar terpilih menjadi peserta Touch Korea Tour dari Indonesia. Ini dia sepuluh alasan yang berhasil aku buat. Why it must me? Because…. 

1. It’s My Dream

Seperti yang sudah aku ceritakan di postingan sebelumnya, pergi ke korea (GRATIS!) adalah mimpi terbesarku saat ini! Pemilihan Touch Korea Tour Pengalaman Tim Event yang diselenggarakan oleh KTO Indonesia merupakan salah satu jalan yang aku temukan untuk mewujudkan mimpiku ini. Dan aku harus terpilih karena ini! Kenapa? Karena (menurutku) jika kita melakukkan sesuatu tanpa mimpi, kita tidak akan menjalaninya dengan sungguh-sungguh dan hati senang. Aku percaya bahwa semua orang yang mengikuti pemilihan ini juga mempunyai mimpi yang sama denganku. Tapi apakah mereka bangga akan mimpi itu dan memegang teguhnya seperti aku? Well, ga ada yang tahu sih sebenernya. Tapi pemilihan ini memang salah satu kesempatan agar aku bisa mewujudkan mimpiku pergi ke korea, dan aku tidak akan melewatkannya. Aku sudah berusaha semampuku, tinggal para juri yang membaca ini yang menentukan :)

2. Fangirl

Selain menyukai kebudayaan korea, aku juga seorang fangirl yang mengidolakan beberapa orang K-Idol, terutama 2PM and MissA! Yes, I’m Hottest and SayA! Dan saya rasa ini merupakan alasan kenapa saya harus dipilih. Sebagian orang yang mengikuti pemilihan ini mungkin hanya ikut karena mereka ingin pergi ke korea. Mungkin mereka juga fangirl/fanboy, tapi aku yakin tidak semuanya merupakan Hottest and SayA yang mengetahui tentang dua grup Idol yang menjadi brand ambassador acara ini. Bukankah lebih baik yang terpilih adalah yang mengetahui tentang mereka (selain mengetahui tentang korea tentunya)?

3. Writer

Kalau kalian membaca blog ku ini, kalian pasti menemukan beberapa cerita yang telah aku buat. Yes, I’m a writer! Memang sih aku bukan penulis yang telah menerbitkan banyak buku (baru satu buku yang berhasil ku terbitkan bersama teman-teman), tapi aku suka menulis. Tulisanku banyak diposting di blog-blog dan facebook, terutama tulisanku yang merupakan fan fiction. Aku suka membuat fan fiction dengan tokoh 2PM dan berlatar korea. Kalau aku bisa pergi ke korea, tentunya itu akan menjadi pengalaman berharga yang akan menambah wawasanku dalam menulis fan fiction. Sehingga tulisanku bisa terkesan nyata dan menarik minat pembaca juga akan Korea. Bisa sekalian promosiin korea juga kan? ;)

4. Social Network User

I’m using social network, mulai dari facebook, twitter, sampai blog! Dan aku cukup terbiasa dengan social network tersebut karena telah menggunakannya sejak lama. Menurutku, social network saat ini telah menjadi suatu alat promosi yang cukup ampuh. Karena siapa sih orang (khususnya remaja) didunia yang saat ini belum memiliki akun social network? Rasanya orang itu pasti (maaf) katro banget ya. Banyak keuntungan yang aku dapat dengan menjadi pengguna jejaring sosial. Aku bisa menambah teman, wawasan, dan mengetahui banyak hal baru. Karena itulah, jika aku terpilih menjadi salah satu peserta pengalaman tim event, aku akan menceritakan pengalamanku melalui semua situs jejaring sosial yang kumiliki. Secara tidak langsung aku juga mempromosikan korea lagi kan? :D

5. Love Travelling and Try a New Thing

Satu hal lain yang menjadi alasanku harus dipilih, aku suka jalan-jalan. Menjelajahi tempat baru, berkenalan dengan orang-orang baru, dan mencoba segala hal yang baru! Aku rasa, orang yang terpilih untuk mengikuti acara ini adalah orang mau mencoba hal-hal baru sepertiku. Oh, dan dia juga harus suka jalan-jalan. Ngapain pergi ke luar negeri tapi ga menjelajahi setiap tempat di negeri itu. Iya kan?

6. Open Minded

Nah, selain suka mencoba hal baru, aku juga mau menerima hal-hal baru tersebut. Aku mempunyai pikiran yang terbuka. Aku tidak membatasi pikiranku terhadap suatu hal. Hmm, mungkin karena ini juga aku sering dibilang kreatif dan banyak ide. Bukannya kreatifitas berawal dari sikap open mind? ;)

7. Simple

I’m a simple girl! Aku tuh ga ribetan orangnya, aku cukup praktis dan bisa diajak gerak cepat. Aku rasa ini satu kelebihanku. Aku juga terbiasa hidup mandiri dan menyesuaikan keadaan dengan lingkungan yang baru. Ini karena aku sudah terbiasa tinggal terpisah dari keluarga selama dua tahun. Oh ya, yang pasti aku ga manja! Pasti ribet kan kalau yang ikut dalam touch korea tour nanti adalah anak yang manja? :p

8. I Want to Learn

Jujur, I’m not really expert in English or Korean. But I want to learn! Aku akan belajar selama perjalanan ini, bukankah cara belajar yang efektif adalah belajar langsung dari sumbernya? Aku akan sangat senang sekali jika bisa belajar berbagai bahasa langsung dari orang-orangnya. Selain itu, aku juga ingin belajar lebih jauh tentang korea, kebudayaannya, sejarahnya, dan yang pasti tentang fenomena k-pop nya. Aku senang belajar. Mengetahui berbagai hal baru pasti menyenangkan. Apalagi kalau kita bisa belajar sambil melihat langsung atau mempraktekkan langsung. Pasti jauh lebih menyenangkan dibandingkan hanya belajar dari buku ataupun internet. Benar kan?

9. Mahasiswa Kere

Oke, ini mungkin alasan paling melas yang muncul dalam pemilihan touch korea tour ini. Aku yakin tidak ada seorang peserta pun yang memunculkan alasan aneh macam ini. Tapi inilah aku, aku memang seorang mahasiswa kere yang buat jalan-jalan atau shopping aja harus mikir berkali-kali. Tapi, karena inilah aku harus dipilih! Aku tidak yakin bisa pergi ke korea jika harus mengandalkan biaya sendiri (yah, mungkin bisa, tapi pasti harus memakan waktu bertahun-tahun buat nabung). Karena itulah, aku merasa berhak untuk ikut dalam touch korea tour ini. Jalan-jalan ke Korea gratis! Kapan lagi kan? Sebagian dari peserta yang lain mungkin masih bisa pergi ke korea dengan mengandalkan keuangannya sendiri. Tapi aku? Ini kesempatanku untuk pergi ke korea GRATIS!

10. Karena Aku Adalah Aku

Last but not least, alasanku HARUS terpilih adalah, karena AKU adalah AKU! Yeap, aku bangga jadi diriku sendiri. Aku selalu berusaha menerima apapun kekurangan yang ada pada diriku. Meskipun aku hanya mahasiswa kere, aku selalu berusaha agar ke-kere-an ku itu tidak menghambat prestasi dan mimpiku. Meskipun aku bertubuh kecil, aku bangga kok. Apalagi Allah juga telah memberiku wajah imut (narsis!). aku selalu berusaha jadi diri sendiri. Bukankah setiap orang di dunia ini special? Kalau begitu kenapa kita harus jadi orang lain? Aku yakin di dunia ini ga akan ada orang sepertiku. Orang yang dengan pedenya menyebut bahwa ia mahasiswa kere, orang yang dengan jujurnya bilang kalau ga terlalu jago bahasa inggris (padahal jelas-jelas syaratnya harus bisa bahasa inggris, eh tapi aku bisa bahasa inggris kok walau ga expert), orang yang dengan optimisnya ikutan pemilihan ini ditengah-tengah ujian, dan orang yang membuat semua kelemahannya menjadi alasan ia harus dipilih. Inilah aku! Aku adalah Aku! Ga ada yang kaya aku didunia ini :)

Oke, itu dia sepuluh alasan kenapa aku harus dipilih. Mungkin dari semua alasan itu banyak sekali yang tidak masuk akal, tapi percayalah, aku pantas menjadi peserta Touch Korea Tour! Hehe. Kalau mau tahu lebih jelas tentang aku, dan mau memastikan apakah aku benar-benar pantas atau tidak, kalian bisa liat postingan blog berlabel About Me. Buat kamu yang mau menyanggah, meledek, atau pun menghina kesepuluh alasan saya ini saya persilahkan dengan senang hati. Kolom komen terbuka lebar untuk anda yang mau berpendapat. Terima kasih! ^^

Kamis, 26 April 2012

[Touch Korea Tour] I Want To Try This Food(s)!

Korea Tourism Organization Indonesia mencari satu orang wakil untuk ikut dalam Touch Korea Tour. Kalau kamu merupakan salah satu "korban" Hallyu, ayo ikut dan rasakan pengalaman menjelajahi Tempat Wisata Korea Selatan. Buzz Korea!
Masih ngomongin soal korea nih…. Kalau sebelumnya aku membuat list apa yang harus dilakukan di korea, sekarang aku membuat list apa yang harus aku makan di korea. Karena kalau ke korea, aku pasti harus makan juga dong, hehe.

Jujur, aku bukan orang yang suka mencoba makanan baru. Aku termasuk orang yang agak pilih-pilih dalam urusan makanan. Tapi, ada beberapa makanan korea yang benar-benar memputku penasaran ingin mencobanya (walaupun ga tahu nanti aku bakalan suka apa ngga lol). And, this is the list:

1. Kimchi

Ingat korea pasti ingat Kimchi! Pertama kali aku tahu kimchi adalah saat aku membaca komik jepang berjudul the extra kobayashisaat SD. Di komik ini ada satu part dimana mereka berwisata ke korea, dan salah satu tokohnya tidak bisa menikmati makanan gara-gara makanan korea pedas-pedas, dia juga bahkan ga suka kimchi. Terus di komik ini juga digambarkan bagaimana mereka berfoto dengan menyebut “kimchi” agar tersenyum. Yap, kalau di barat pada bilang “cheese” saat di foto, di korea mereka bilang “kimchi”. Wah, kimchi emang benar-benar populer ya?

Kimchi :D

Tapi, pertama kali aku lihat kimchi itu (soalnya di komikkan ga kelihatan bentuknya) saat aku nonton drama korea berjudul Boys Before Flowers . Aku suka sekali saat adegan keluarga Jan Di bekerja sama membuat kimchi, saling melempar sawi. Yap, Kimchi adalah sayur sawi yang difermentasi. Biasanya kimchi ini menjadi pelengkap makanan di korea. Yah, meskipun kelihatannya kimchi ini (maaf) menjijikan, tapi aku penasaran ingin mencobanya. Banyak orang yang bilang kalau rasanya enak.

Get ready to make Kimchi!

2. Ramyeon Tteokbokki

Kalau yang satu ini aku penasaran ingin mencicipinya karena Taecyeon 2PM (idolaku) pernah membuatnya! Hehe, agak aneh juga ya alasannya. Tapi beneran deh, aku pengen nyobain makanan ini karena waktu aku lihat video 2PM saat makan ramyeon tteokbokki buatan Taec itu kayanya enak banget (atau mungkin karena merekanya aja yang lagi kelaparan kali ya?). Ramyeon Tteokbokki adalah mi kuah dan rice cakes (tteokbokki) yang dicampur dengan daging dan ayam. Look delicious right?

Ramyeon Tteokbokki

Kalu bisa sih ya, aku pengen nyicipin ramyeon tteokbokki langsung buatan Taec. Mau ga ya dia masakin buat aku? Hahaha :p

Taec cooking Ramyeon Tteokbokki

3. Street Food

Ini juga aku tertarik mencobanya kareana salah satu adegan di drama korea Boys Before Flowers. Ingat saat Jun Pyo diajak ayah Jan Di ke pemandian air panas? Nah, pulangnya kan mereka makan di salah satu warung pinggir jalan. Awalnya Jun Pyo yang anak orang kaya ga mau makan makanan itu, tapi setelah nyobain ternyata dia malah ketagihan dan makan sampai berpuluh-puluh tusuk! Aku lupa apa nama makanan yang dimakan sama Jun Pyo itu (ada yang tahu?), tapi aku bener-bener pengen nyobain. Anak orang kaya yang sombong kaya Jun Pyo aja bisa suka, apalagi aku, mahasiswa kere yang emang biasanya makan di warung pinggir jalan. Hehe.

Goo Jun Pyo eating street food! Ada yang tahu apa nama makanan yang dimakannya itu?

Selain itu, aku pengen nyobain akan di angkringannya orang korea. Kayanya lebih elit gitu dibanding angkringan yang ada di deket kost ku. Eh, pada tahu angkringankan? Tempat makan kecil yang cuma terdiri dari gerobak dan kursi terus ditutupin terpal. Yang khasnya orang Jogja itu looh. Kalau ga tahu main ke Jogja makanya :p

Korean Street Food

Oke, itu dia list makanan yang pengen aku cobain jika suatu saat mimpiku pergi ke korea bisa jadi kenyataan. Nah, apakah kalian juga pengen nyobain makanan yang sama? Atau kalian udah pernah nyobain makanan-makanan diatas dan pengen nyobain yang lain? Yuk share lagi kawan, kolom komen selalu terbuka untuk kalian yang mau berbagi cerita! ^^


note: 
pictures credit to uploader via google
video credit to uploader via youtube

[Touch Korea Tour] Must To Do List in Korea!

Korea Tourism Organization Indonesia mencari satu orang wakil untuk ikut dalam Touch Korea Tour. Kalau kamu merupakan salah satu "korban" Hallyu, ayo ikut dan rasakan pengalaman menjelajahi Tempat Wisata Korea Selatan. Buzz Korea!
Dipostinganku sebelumnya, aku pernah bercerita soal mimpiku. Sekarang, aku punya satu mimpi lagi, pergi ke Korea! Sejak dulu, aku memang punya mimpi bisa pergi keliling dunia, menjelajahi setiap negara (dengan gratis), tapi akhir-akhir ini mimpiku mengarah tepat kesatu negara, KOREA! Yup, mungkin memang bisa dibilang aku juga merupakan salah satu “korban” dari virus Korea yang sekarang sedang menyebar luas di negeri kita tercinta ini. Terlepas dari itu, dari segala macam tetek bengek fenomena pop Korea, aku juga menyukai kebudayaan Korea! Aku senang melihat suatu negara yang maju pesat tapi mereka tidak meninggalkan kebudayaan aslinya. Inilah yang menambah cintaku pada negeri gingseng ini (dan tentunya menambah keinginanku untuk pergi kesana).

Nah, sebelum pergi kesana, aku bahkan sudah membuat daftar rencana yang HARUS aku lakukan jika pergi ke Korea! Mau tahu apa saja? Okay, check this out!

1. Fangirling

Sebagai seorang Fingirl, hal pertama yang pastinya ingin aku lakukan adalah Fangirling! Kapan lagi coba bisa berada satu negara dengan idola kita. Kalau bisa aku mau deh seharian penuh jadi stalker demi menemui sang idola (otak kriminal). Okay, itu berlebihan, yang pasti aku akan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan fangirl Korea.

Pertama, mengunjungi JYP Entertainment. Sebagai seorang Hottest yang idolanya berada di bawah naungan JYPE, aku ingin sekali mengunjungi “markas besar” idolaku ini. Yah, kalaupun ga bisa masuk, tapi melihat dari dekat gedung JYPE yang katanya mirip gedung pertunjukan itu saja aku sudah puas kok. Aku juga tak akan lupa untuk mampir ke kedai dunkin donuts yang ada di depan gedung JYPE. Disana aku bisa melihat kumpulan poster dan tanda tangan artis didikan JYPE. Sambil menikmati makanan, aku juga bisa duduk-duduk sambil memandangi gedung JYPE, siapa tahu tiba-tiba 2PM atau artis JYPE lainnya lewat. Kan aku bisa buru-buru keluar minta tanda tangan. Hehe :p

JYPE Building

Salah satu tiang di dunkin donuts dengan poster 2PM

Tanda tangan JYP yang dipasang di dunkin donuts

Kedua, beli K-Pop CD dan Merchandise! Ini wajib banget buat dilakukan oleh fangirl, apalagi yang bukan asli korea sepertiku. Beli fan goodies langsung dari korea rasanya pasti berbeda. Nah, sebagai mahasiswa dengan budged pas-pasan, tentunya aku juga harus memilih tempat yang tepat untuk berbelanja semua itu. Kalau dilihat dari buku panduan korea yang aku miliki (baca: SeoulVivor)tempat belanja fan goodies murah itu ada di daerah Myeongdong, tepatnya di Underground Mall Myeongdong. Fan goodies yang dijual ditempat ini harganya relatif lebih murah dibanding dengan tempat lainnya di korea (paling tidak itu yang disebut dalam buku ini, hehe).

salah satu kios K-Pop di Underground Mall Myeongdong

Terakhir, menonton acara musik korea! Pasti kalian tahu dong, kalau di Korea juga banyak acara musik seperti dahsyat atau inbox? Yap, di Korea acara musiknya juga beragam, ada Music Bank, M! Countdown, SBS Inkigayo, dan lain sebagainya. Ketika pergi ke Korea nanti, aku ingin paling tidak menonton salah satu dari acara-acara tersebut. Dan kalau bisa yang ada 2PM-nya dong yaa. Oh iya, satu informasi nih, kalau dari sumber yang aku dapat ternyata untuk menonton acara musik korea itu harus daftar loh. Caranya juga macem-macem, mulai dari antri tiket untuk reservasi, sampai dipilih langsung oleh fanbase resmi idolanya. Waw, ga kaya di Indonesia ya. Di indonesia nonton acara musik begitu kita malah dibayar :p

2. Mengunjungi SEMUA Tempat Wisata di Korea

Semua? Rasanya kok kemaruk banget ya? Tapi kalau mengingat banyak destinasi wisata menarik di korea aku benar-benar ingin mengunjungi SEMUA! Ternyata pariwisata di Korea memang ga kalah keren dengan Indonesia loh… Tapi yah dari pada aku benar-benar dianggap kemaruk, aku akan pilih beberapa tempat wisata aja deh. Dan pilihanku jatuh kepadaaaa….. *jeng jeng jeng* (oke ini lebay)

Pertama, Namsan Seoul Tower! Walaupun jujur, aku belum punya pacar, tapi rasanya aku penasaran banget sama menara yang katanya dipenuhi oleh gembok-gembok cinta ini. Aku semakin penasaran dengan tempat ini saat membaca sebuah novel berlatar korea, Infinitely Yours. Di novel itu, dua orang tokoh utama yang tadinya bukan sepasang kekasih malah jadi saling mencintai setelah memasang gembok di N. Seoul Tower. Nah, siapa tahu aku juga bisa seperti itu, hehe.

N. Seoul Tower

Ribuan gembok cinta di N. Seoul Tower

Selanjutnya, setelah berbagai pertimbangan, aku memilih pergi ke Pulau Nami! Kalau di Indonesia ada pulau Bali yang terkenal, di Korea mereka punya pulau Nami. Pulau yang sering dijadikan sebagai tempat syuting k-drama ini tampaknya memang sudah menjadi ciri khas tersendiri bagi Korea. Katanya sih, akalau ke Korea tapi ga ke pulau Nami tu sama aja kaya belum ke Korea. Hehe. Aku juga pengen melihat jejak-jejak peninggalan k-drama Winter Sonata yang ada di pulau ini. Siapa tau aku tiba-tiba menemukan cowok ganteng di korea dan bisa menikmati kisah cinta romantic di pulau Nami seperti dalam kisah Winter Sonata… #ngarep

Hutan yang sering dilalui Choi Ji Woo dan Bae Yong Joon dalam serial drama Winter Sonata

Patung Choi Ji Woo dan Bae Yong Joon di Pulau Nami

3. Media Visit

Well, mungkin bagi yang lain planning-ku ini sedikit aneh tapi, sebagai mahasiswa jurusan ilmu komunikasi konsentrasi broadcasting, aku ingin sekali melakukan kujungan ke media yang ada di korea. Aku ingin melihat bagaimana suatu program diproduksi, baik itu di televisi maupun di radio. Aku ingin belajar dari korea mengenai pembuatan acara mereka yang tampaknya selalu menarik (bagiku). Selain itu, sebagai seorang penyiar radio, aku juga ingin melihat bagai mana sebenarnya siaran radio di korea.

SHINee di Arirang radio

Arirang TV

Nah, untuk yang satu ini ada beberapa media (khususnya televisi) yang memang memiliki program studio tour. Salah satunya adalah KBS (Korean Broadcasting System) yang menyelenggarakan KBS suwon studio, dimana kita bisa melihat tempat mereka mmproduksi drama ataupun fasilitas lainnya. Selain itu juga ada Arirang Studio Tour. Arirang TV yang merupakan stasiun televisi internasional berbahasa inggris milik korea selatan ini juga membuka program tour untuk pengunjung. Bedanya dengan KBS, di Arirang Studio Tour ini selain kita bisa melihat produksi di studio televisi, kita juga bisa melihat siaran radionya juga. Dan daftarnya juga lebih mudah dari pada KBS karena bisa melalui email.

Kantor KBS... semoga aku bisa masuk kesana suatu hari nanti!

Well, itu dia tiga daftar rencana yang HARUS aku lakukan jika suatu saat nanti bisa pergi ke Korea. Apa kalian juga punya rencana yang sama denganku? Atau kalian punya rencana yang lebih asik dari punyaku ini? Yuk share kawan, box komen terbuka untuk kalian yang mau berbagi cerita juga! ^^


Note:
Pictures credit to uploader via google

Sabtu, 21 April 2012

DreamCatcher: You are My Strength

Aku punya banyak mimpi. Banyak sekali... Bagiku, mimpi bukanlah sekedar bunga tidur. Bagiku, mimpi adalah kekuatan. Kekuatan yang membuatku berjuang. Kekuatan yang membuatku bertahan. Kekuatan yang membuat aku menjadi aku yang sekarang. Awal aku menjadi seorang pemimpi ketika aku duduk di bangku SMP. Dari sanalah semua mimpi-mimpiku bermula....

Waktu SMP aku suka sekali mendengarkan radio. Dari situ tumbuh satu mimpi, aku ingin jadi penyiar radio! Saat itu aku berpikir, aku ini kan gak cantik, gak tinggi, dan mungkin ga menarik. Kalau aku jadi penyiar radio, aku ga perlu takut akan semua itu. Toh kalau aku jadi penyiar radio yang ketauan cuma suaranya doang, haha... Dan mimpi itu sudah mulai terlihat bentuknya sekarang. Aku jadi penyiar radio! yaaah, walaupun masih jadi penyiar radio komunitas di kampus tapi paling ga aku udah pernah on air dan suaraku sudah mengudara, hehe. lagipula aku anggap ini sebagai jembatan agar aku bisa jadi penyiar radio profesional!

Bersama teman-teman Ikom Radio di call box ^^

Mimpiku selanjutnya, aku ingin jadi penulis novel! Dari kecil, ayah dan ibuku selalu mencekoki aku dan adik-adikku dengan berbagai buku bacaan. Aku jadi sangat suka sekali dengan membaca. Saat SMP aku mulai berpikir, aku juga pasti bisa menulis seperti para penulis ini. Berkali-kali aku mencoba menulis, mengiriminya ke berbagai penerbit. Yaaah, walaupun akhirnya tulisanku mungkin cuma berakhir sebagai kertas pembungkus atau mungkin di buang ke tempat sampah setelah mereka baca, haha. Nah, mimpiku ini juga sudah mulai terwujud. Walaupun hanya dalam bentuk kecil saja. Aku dan teman-teman di kampus membentuk sebuah komunitas menulis. Sebagai permulaan kami menerbitkan sebuah buku berjudul "Hybrid Theory 0.1 Antologi Cerpen 9 Kisah dalam 9 Teori" dan aku menjadi salah satu penulisnya... Semoga setelah ini aku bisa mewujudkan mimpiku menerbitkan sebuah novel!

Ini cover awal Hybrid Theory 0.1 ^^
Namaku masih salah...

Mimpiku yang lain muncul saat aku SMA. Saat itu aku sedang berlibur bersama keluargaku kesalah satu tempat wisata. Disana aku melihat seorang fotografer sedang beraksi, mengarahkan kamera dengan lensa besarnya kesa-kemari. Keren banget keliatannya. Muncul lagi satu mimpiku, aku ingin jadi fotografer! Pasti menyenangkan mengabadikan suatu hal yang spesial kedalam bentuk foto. Daaan, mimpi ini mulai terlihat wujudnya juga. Aku ikut UKM fotografi di kampus, Release Photography Club. Aku belajar banyak soal fotografi dari sini. Bahkaaan, aku pernah ikut pameran foto! Berasa fotografer beneran ^^

Pameran pertamaku bareng anak-anak RPC angkatan 10 ^^
Mejikuhibiniu~

Satu lagi mimpiku (sebenernya masih banyak, tapi bakal panjang kalau aku tulis semuanya satu-satu), ini mimpi terbesarku. Mimpi yang tiba-tiba muncul sejak aku mengenal mereka. Dua orang pria yang 'beruntung' aku cintai. Mereka, Valentino Rossi dan Kimi Raikkonen, haha. Pertama kali aku mengenal mereka, saat SMP, aku langsung jatuh cinta. Bukan hanya dari tampang mereka (seperti yang kebanyakan perempuan liat), tapi juga dari skill mereka balapan. Aku bermimpi untuk bisa bertemu mereka suatu saat nanti. Dari mimpi itu, muncul mimpi lainnya, aku ingin jadi reporter! Menurutku itu salah satu cara agar aku bisa menemui mereka. Lagipula, dengan jadi reporter aku juga bisa keluar negeri gratis bahkan dibayar, haha... Mimpi ini belum bisa kuwujudkan sampai sekarang. Tapi aku yakin aku yang sekarang ini merupakan jalan menuju semua mimpiku.

Aku mungkin belum pernah ketemu Vale dan Kimi, 
tapi aku pernah ketemu saingan Vale, Jorge Lorenzo ^^ 
Ini saat dia melihat aku dengan 'iba'

Mimpi akan tetap menjadi mimpi jika kau terus tertidur, maka bangun dan berlarilah mengejar mimpimu itu!

NB: Terima kasih untuk semua orang yang telah membantuku mewujudkan mimpiku sejauh ini. Mungkin kalian tak pernah sadar, tapi keberadaan kalianlah yang membuat aku seperti sekarang. Terima kasih ^^