Jumat, 04 Juli 2014

[Fan Fiction] Crazy Decision: He Must Be Crazy


Crazy Decision: He Must Be Crazy
A continuation for She Must Be Crazy.
Wafda S. Dzahabiyya

Jackson benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kemarin Jimin baru saja menyatakan suka padanya dan menghilang begitu saja sebelum Jackson sempat menyadari apa yang terjadi. Tapi hari ini gadis itu bertingkah seperti biasa, seolah tak ada yang terjadi. Apa kemarin ia hanya bermimpi?

Hey, are you okay?

Jackson terkesiap mendapati seseorang telah duduk dihadapannya, melambaikan tangan di depan wajahnya.

Yeah, I’m just–

Confuse?” potong Jinyoung sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Jackson dan tersenyum simpul.

Jackson mendengus mendengar pertanyaan sahabatnya itu. “Who won’t be confused in this situation?”

Pemuda itu memfokuskan pandangannya pada sosok Jimin yang berada di sisi lain ruangan. Gadis itu tengah bercanda bersama Bambam dengan menggunakan bahasa Thailand-nya yang pas-pasan. Jinyoung memperhatikan pemuda dihadapannya dan akhirnya mengikuti arah pandang Jackson.

She just tried to be honest with her feelings,” kata Jinyoung tanpa mengalihkan pandangannya.

Do you think she is serious?

Yeah, but you don’t have to think about it.

Jackson menatap Jinyoung yang sudah tersenyum penuh arti kearahnya dengan heran. How can he not think about it?

If you can’t stop thinking about it, that’s mean you have to be honest with your feelings too,” tambah Jinyoung seraya berdiri dan meninggalkan Jackson yang masih termenung.

Jackson kembali menatap Jimin. Ada perdebatan kecil dalam dirinya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mendekati gadis itu. Jackson tidak peduli dengan teriakan Jimin saat ia menarik gadis itu berdiri dan membawanya keluar ruangan. Ia tidak menghiraukan lengan Jimin yang mulai kesakitan karena genggamannya yang kuat.

Are you crazy?” Jimin berteriak dan menghentakan tangannya, melepas genggaman Jackson. Tanpa ia sadari mereka telah tiba di rooftop.

I just want to give you an answer!” Jackson balas berteriak.

Tak seperti bayangan Jackson, gadis di hadapannya malah mengernyit bingung.

What answer? I never ask you anything.

Jackson tersentak, sekarang ia baru sadar maksud perkataan Jinyoung. Tapi….

What if I like you too?

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Dia tak bisa menghentikannya dan berpikir, he must be crazy.

***

Also posted on asianfanfics in english.

Rabu, 02 Juli 2014

[Fan Fiction] Crazy Decision: She Must Be Crazy



Crazy Decision: She Must Be Crazy
Wafda S. Dzahabiyya

Jimin menghempaskan tubuhnya pada sofa di pojok ruangan. Akhirnya latihan untuk collaboration stage 15& dan GOT7 di JYP Nation concert hari ini selesai sudah. Tak ada yang sadar jika dibalik keceriaan dan tingkah hyperactive Jimin yang terlihat wajar seharian tadi sebenarnya terdapat sesuatu yang disembunyikan. Setidaknya Jimin harap begitu.

Are you okay?” Pertanyaan itu membuat Jimin tersentak. Baru ia sadari ternyata seorang pemuda duduk disampingnya, menatapnya dengan cemas.

Buru-buru gadis itu tersenyum dan menjawab, “I’m okay oppa.”

Jimin mengalihkan pandangannya dari pemuda itu. Ia mungkin bisa saja mengelabui semua orang di ruangan ini, termasuk pelatih mereka, tapi tidak dengan pemuda di sampingnya. Sesuai perannya dalam grup, pemuda berambut hitam dengan mata kelam itu mempunya sosok keibuan. Jimin sendiri sering kali memilih curhat padanya dibanding pada Yerin, rekan setimnya. Namun kali ini tidak. Jimin tidak pernah menceritakan hal yang satu ini pada Jinyoung, pemuda yang sudah Jimin anggap sebagai kakaknya sendiri itu.

I’ll be okay oppa,” tambah Jimin. Matanya menatap sosok di tengah ruangan yang sedang bercanda sampai berguling-guling di lantai.

Belum sempat Jinyoung bertanya lebih jauh, seorang wanita muncul dari balik pintu ruang latihan dan memanggil Jimin serta Yerin untuk pergi.

Ini saatnya, batin Jimin.

Gadis itu meraih tasnya dan mengikuti Yerin yang sudah bersiap untuk pergi. Ia tidak sadar saat Yerin berpamitan dengan member GOT7, atau saat gadis yang lebih tua beberapa hari darinya itu melangkah menuju pintu. Pikirannya masih berdebat, apakah ia benar-benar harus melakukannya sekarang?

Wait a minute,” kata Jimin tiba-tiba, menahan langkah Yerin tepat di ambang pintu.

Tidak peduli dengan tatapan heran Yerin, Jimin melangkah ke tengah ruangan. Gadis itu berdiri tepat di depan Jackson dan Bambam yang masih asik berguling di lantai. Kedua pemuda itu menghentikan kegiatan mereka dan mendongak menatap Jimin heran.

Jimin menarik nafas dalam-dalam, ia sudah tidak mau tahu lagi.

Jackson oppa, I think I like you! Bye!” seru Jimin dalam satu tarikan nafas.

Dalam sekejap gadis itu berbalik dan berlari keluar dari ruangan. Ia sudah tak peduli bagaimana reaksi Jackson atau member GOT7 lainnya. Ia bahkan sudah tak ingat pada Yerin yang masih berdiri mematung di pintu ruang latihan. Di pikirannya hanya ada satu hal, She must be crazy.

***

Also posted on asianfanfics in english.

Read the sequel, He Must Be Crazy.

Jumat, 13 Juni 2014

[Fan Fiction] You and Me: Fate


You and Me: Fate
Wafda S. Dzahabiyya

“Dari mana dia belajar kata-kata itu?” tanya Jackson sambil berbisik, entah kepada siapa. Matanya masih tak lepas dari sosok Bambam dan Suji yang tengah menikmati “kencan” mereka.

“Siapa lagi kalau bukan dari kau, hyung!” komentar Youngjae yang langsung mendapat lirikan tak terima dari Jackson.

“Tidak bisakah kalian diam? PD-nim bisa memarahi kita.” Mark mengalihkan pandangannya pada PD dan staff lainnya untuk memastikan keberadaan mereka di sana tidak mengganggu jalannya shooting terakhir hari itu.

“Aku bisa lebih baik dari itu,” kata Yugyeom tiba-tiba, membuatnya semuanya kembali memperhatikan Bambam dan Suji.

“Eii, kau pasti akan lebih awkward dari itu,” ejek Jackson. “Sudah kuduga seharusnya dia memilihku.”

“Kalian harusnya tahu siapa yang bisa melakukannya lebih baik diantara kita semua.” Hening sejenak, sepertinya semua menunggu seseorang berbicara. “Loh, tidak ada yang mengaku?” lanjut Mark akhirnya.

“Karena dia tidak ada di sini,” kata Jaebum buka suara. Sebenarnya dia sudah sadar sedari tadi bahwa salah satu member-nya menghilang. Jaebum tak tahu dia kemana, tapi ia tahu pasti alasannya.

“Tidak baik mengintip kencan seseorang.” Sebuah suara tiba-tiba mengejutkan mereka. Jinyoung, sang pemilik suara, berdiri tak jauh dari sana, tertawa pelan melihat reaksi kawan-kawannya itu.

Hyung, kau harus lihat ini.” Yugyeom melirik sekilas kearah Bambam dan Suji sebelum menambahkan, “Mereka sangat awkward.”

“Dan itu bukan kencan!” protes Jackson tak terima.

Jinyoung kembali tertawa sambil melanjutkan langkahnya menuju tumpukan tas di pojok ruangan. Ia tampaknya tak tertarik sama sekali dengan kencan kecil yang didapatkan maknae kedua mereka itu.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jaebum yang diam-diam mengikuti Jinyoung.

“Aku hanya dari toilet hyung, tak usah khawatir.” Jinyoung tersenyum sekilas pada Jaebum sebelum duduk bersila dan meraih tasnya. Jinyoung tahu betul maksud pertanyaan Jaebum, dan ia tahu jawabannya tadi tidak membuat leader-nya itu puas.

Jinyoung menghela nafas, mendongak kearah Jaebum yang berdiri di hadapannya, memandanginya sejak tadi. “Aku baik-baik saja hyung, sungguh. Kenapa aku harus tidak baik-baik saja?” tambah Jinyoung, lebih seperti bertanya pada dirinya sendiri.

“Kerja bagus.” Jinyoung mengernyit, menatap Jaebum tak mengerti.

“Kau melakukan kerja bagus hari ini,” lanjut Jaebum dengan senyum penuh pengertian.

“Kau bercanda hyung? Kerjaku memang selalu bagus.” Jinyoung tertawa melihat Jaebum yang mendengus mendengar komentarnya.

“Terserah kau sajalah,” kata Jaebum sambil berlalu dari hadapan Jinyoung. Percuma dia sudah khawatir pada pria yang lebih muda beberapa bulan darinya itu.

Tawa Jinyoung perlahan menghilang, berganti dengan senyum tipis saat melihat Jaebum pergi menghampiri member lain yang tengah menggoda Bambam. Tampaknya shooting telah selesai.

Jinyoung mengalihkan perhatian pada tas dipangkuannya, berusaha mencari handphone miliknya. Dahinya mengernyit melihat satu pesan singkat di layar smartphone-nya itu. Pesan yang benar-benar singkat. ‘Keluar.’

Pemuda itu mengangkat kepalanya, memperhatikan sekeliling dan berusaha mencari sang pengirim pesan. Saat tidak menemukan tanda-tanda keberadaannya, Jinyoung pun menghela nafas dan berdiri, memutuskan untuk menuruti perintah pesan tersebut.

Baru saja kakinya melangkah keluar dari café yang dijadikan tempat shooting hari itu, pesan lain masuk ke handphone-nya. ‘Arah jam 10.’

Jinyoung memperhatikan arah yang dimaksud, namun di seberang jalan yang membelah taman café itu hanya ada rimbunan semak dan pohon. Jinyoung pikir, tak mungkin orang yang mengiriminya pesan benar-benar ada di sana kan? Tapi toh kakinya tetap bergerak membawanya ketempat yang dimaksud.

Dan orang itu ada disana. Gadis itu benar-benar ada disana, di kegelapan malam yang hanya dihiasi temaram lampu taman, bersandar dibalik pohon. Pandangannya lurus menatap langit malam, seolah tak peduli pada keberadaan pemuda yang telah dipanggilnya ketempat itu.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Jinyoung memecah keheningan.

“Menunggumu,” jawab gadis itu singkat. Matanya belum mau beralih membalas Jinyoung yang sedari tadi menatapnya.

“Semua orang akan mencarimu.” Gadis itu tetap diam. Sejumput rambut panjangnya sesekali berkibar lembut tertiup angin. Meskipun dengan cahaya seadanya, Jinyoung bisa merasakan kecantikan gadis itu. Kecantikan alami yang sering kali membuatnya sesak.

“Untuk apa kau memanggilku kemari, ketempat gelap dan dingin ini? Jika ada staff yang melihat kita, mereka pasti akan salah paham. Kau tahu kita–”

“Aku tak peduli,” potong gadis itu cepat.

“Suji-ya….” Gadis itu akhirnya menoleh, menatap langsung pada bola mata hitam pemuda di sampingnya seolah menantang.

Jinyoung mengalihkan pandangannya, berpaling melihat apa pun selain gadis itu. Ia tak mau tenggelam dan larut dalam tatapannya yang menghanyutkan. “Sebaiknya kau masuk sekarang. Semua pasti sudah mulai mencarimu.” 

Jinyoung kembali menoleh kearah Suji ketika gadis itu tidak memberikan respon apa pun padanya. “Kau tidak mau?” tanya Jinyoung tidak memperdulikan Suji yang masih menatapnya, seolah menuntut sesuatu dari pemuda itu. “Baiklah, aku yang akan masuk duluan.”

Baru saja Jinyoung berbalik ia sudah merasakan sepasang lengan mencengkram bajunya, menahannya untuk pergi.

“Tidak adakah yang ingin kau tanyakan padaku?” tanya Suji akhirnya.

“Tidak,” jawab Jinyoung singkat tanpa menoleh.

’Kenapa kau tidak memilihku? Kenapa kau memilih Bambam?’ Kenapa kau tidak tanyakan itu padaku?” Jinyoung mendengus dan terkekeh pelan mendengar pertanyaan Suji. 

“Untuk apa aku bartanya? Aku sudah tahu jawabannya.” Saat tidak mendengar tanggapan dari balik punggungnya, Jinyoung pun melanjutkan, “Awalnya aku pikir kau akan memilih Youngjae, tapi begitu melihat jalannya shooting hari ini aku tahu kau akan memilih Bambam. Dan ternyata benar kan? Aku memang selalu bisa menebakmu.”

“Apa kau juga tahu kalau sejujurnya aku ingin memilihmu?”

“Suji-ya, ini hanya–“ 

Kata-kata Jinyoung terputus saat ia merasakan kepala gadis itu bersandar dipunggungnya. Lengannya masih memegang baju Jinyoung erat. 

“Apa kau tahu betapa aku berusaha keras mengatur ekspresiku saat kau menari untukku? Apa kau tahu betapa aku senang saat tahu kaulah yang berhasil mendapatkan bunga itu? Apa kau tahu betapa aku benar-benar berharap kau berhasil menyelesaikan game itu dalam waktu 10 detik? Apa kau tahu betapa aku ingin kau menjawab pertanyaan itu dengan cepat karena aku tak tega melihatmu dipukul? Apa kau tahu betapa gembiranya aku saat tahu kau memperhatikanku, hafal semua foto-fotoku? Apa kau tahu betapa beratnya aku menjalani shooting hari ini dan bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa diantara kita?”

“Bukankah memang tidak pernah ada apa-apa diantara kita?” Jinyoung balik bertanya, memotong semua rentetan pertanyaan panjang Suji.

Jinyoung merasakan pegangan Suji dibajunya terlepas. Pemuda itu berbalik, menatap gadis yang sekarang tertunduk dihadapannya. Tangan Jinyoung terulur, menyentuh pipi Suji dan membuat gadis itu menatap ke arahnya. Dadanya terasa sesak saat melihat sepasang bola mata kelam dihadapannya berkaca-kaca, jejak air mata bahkan sudah tergambar di pipinya. Jinyoung menggigit bibir bawahnya dan berusaha keras menahan perasaan. Matanya sendiri mulai terasa panas.

“Aku tahu,” kata pemuda itu akhirnya. “Aku tahu karena memang aku berusaha keras membuat koreografi itu agar kau terkesan. Aku juga sejak awal bertekad untuk mendapatkan bunga itu agar setidaknya aku bisa menang disalah satu game. Karena aku tahu aku tak akan bisa menjadi pemenang akhirnya.”

 Jemari Jinyoung mengelus lembut pipi Suji, menghapus air mata gadis itu. “Kau tahu kita tak bisa. Semua yang kita rasakan hari ini mungkin hanya karena kita terbawa suasana.”

Suji mengangkat tangannya, meraih tangan Jinyoung dan melepaskan sentuhan pemuda itu dari wajahnya. “Kau benar,” katanya sambil memalingkan wajah. “Mungkin aku memang hanya terbawa suasana.”

“Hey,” seru Jinyoung pelan seraya menggoyangkan tangan Suji yang ada dalam genggamannya. “Bukankah kau percaya akan takdir?”

Pertanyaan Jinyoung membuat Suji menoleh dan mendapati pemuda itu tersenyum kearahnya. Melihat senyum itu mau tak mau bibirnya pun ikut mengulas senyum tipis. 

“Ya, aku percaya.”

***

Also posted on asianfanfics in english.

Minggu, 06 April 2014

Ketika Idola Punya Pacar

Pagi dua hari yang lalu timeline twitterku mendadak heboh gara-gara berita pacarannya Nichkhun sama Tiffany SNSD. Kaget? Ga juga sih. Gosip mereka pacaran emang udah ada sejak lamaaa banget. Aku malah lebih kaget sama JYPE yang tumben-tumbenan membenarkan gosip pacaran artisnya, apalagi 2PM. Mereka katanya udah pacaran sejak 4 bulan yang lalu! Tanggapan Hottest di twitter beragam. Mulai dari yang galau, ninggalin fandom (yah, aku yakin sejak awal mereka bukan Hottest), sampe yang ga percaya kalau mereka pacaran BARU 4 bulan~

Aku sendiri sebenernya ga nyangka kakak Khun baru berani nembak mbak Fany 4 bulan yang lalu. Selama ini kamu kemana aja kak? *kemudian digetok Khun*

Tweet Khun bulan Agustus 2013, Kakak Khun belum berani nembak Mbak Fany~

Oke, back to the topic (yang sebenernya aku juga ga tahu topiknya apa)! Aku termasuk tipe fans yang malah seneng kalau idolanya pacaran. Mau gimana lagi, nasib punya idola yang tua sih. Aku kan ga mau idolaku jadi perjaka tua (emang masih perjaka?) dan jadi jomblo seumur hidup. Aku ngerti lah mereka juga punya kehidupan pribadi di luar sosok mereka sebagai idola. Dan aku emang selalu memposisikan diri di family zone (menganggap mereka sebagai kakak dan papa). Kalau yang penasaran idolaku siapa, bisa cek di postingan-postingan sebelumnya~

Papa Kim dan Tante Minttu

Yes, papaku itu berhasil move on! Sejak cerai sama tante Jenny aku sempet khawatir dia bakal jadi duda keren seumur hidup. Ternyata masih ada perempuan yang bisa mencairkan hatinya. Terima kasih tante Minttu~ *ala iklan*

Dari pertama kali aku ngefans sama Kimi Raikkonen, dia emang udah nikah sama tante Jenny. Jadi sejak awal aku memposisikan diri sebagai anaknya (meskipun dia terlalu muda untuk jadi papaku), tapi entah kenapa aku ga mau menganggap tante Jenny sebagai mama! Aku kaget banget waktu tahu mereka cerai. Padahal mereka kelihatannya mesra banget loh walaupun tante Jenny jarang ikut nemenin papa Kim balapan. Begitu tahu alasan cerainya mereka aku langsung bersyukur dan ngerti kenapa aku ga mau menganggap dia mama. Berani-beraninya dia selingkuhin papaku yang ganteng!

Nah, sekarang papa Kim udah sama tante Minttu! Meskipun namanya aneh tapi tante Minttu ini cantik juga sih. Pas iseng ngesearch namanya di google aku kaget banget, segitu sukanya kah papa Kim sama bir sampe nyari pacar yang namanya sama kaya nama bir? Iya, yang muncul saat aku search “Minttu” di google adalah… bir! Astaga, aku kira nama bir cuma dipake sama kawanan berjubah hitam di Detektif Conan…. 

Tante Minttu dan Papa Kim~ He looks so happy :'))

Aku ga tahu sih mereka udah nikah atau masih pacaran, tapi asal papa Kim bahagia aku juga bahagia~ Semoga kali ini hubungan papa Kim bisa langgeng terus seumur hidup! Dan semoga aku bisa segera punya adik~ 

Kakak Va dan Mbak Linda

Kalau ditanya siapa idolaku yang paling pengen aku denger berita pacarannya jawabannya sudah pasti, Valentino Rossi! Setelah sekian lama cerita asmara kakak Va ga jelas, bahkan sampe digosipin homo, akhirnya… akhirnya dia punya pacar! *nangis bahagia*

Betapa bahagianya aku lihat foto ini, Kakak Va dan Mbak Linda~

Kalian ga akan tahu gimana bahagianya aku saat liat foto itu di instagram kakak Va. Rasanya aku pengen sujud syukur dan teriak “kakak gue normal!” *mulai lebay*

Tapi serius, siapa yang ga cemas saat idolanya udah kepala tiga tapi belum juga denger kabar soal percintaannya (atau cuma aku doang?). Aku sampe beneran mikir gimana kalau ternyata kakak Va diem-diem homoan sama Jorge… duh, amit-amit! 

Sekarang aku ga bisa berhenti senyum-senyum tiap liat kakak Va upload fotonya bareng mbak Linda. Dia kelihatannya bahagia banget! Mbak Linda emang cantik sih. Pokoknya ku restui lah kalian berdua kak~ semoga aku juga segera dapet keponakan yaa~

Kakak Khun dan Mbak Fany

Percaya ga percaya, tanggal 1 April aku ngetweet kaya begini…

Kakak Khun sama siapa? Sama Mbak Fany~

Dan tiga hari setelahnya kakak Khun menjawab pertanyaan itu dengan berita jadiannya dia sama mbak Fany! Dan aku cuma bisa speechless….

Eciee yang ketahuan jalan bareng~

Jujur, perasaanku saat itu campur aduk. Bukannya aku ga terima kakak Khun pacaran. Aku cuma ga terima kenapa kakak Khun harus bohong! Waktu prescon salah satu produk minuman di Thailand bulan lalu, kakak Khun sempat ditanya soal pacar (aku sendiri bingung kenapa wartawannya begitu random). Saat itu dia jawab kalau dia belum mau pacaran, dan kalaupun dia pacaran dia ga akan mengumumkannya ke publik karena akan berpengaruh pada image-nya dan 2PM. Terus kenapa JYPE harus membenarkan hubungan mereka?? Eh tapi, kalau JYPE bilang nggak artinya juga iya sih…

Oh satu lagi, waktu itu kakak Khun juga ditanya soal hubungannya sama Tiffany, dan dia jawab kalau mereka cuma temen! Kalau aku jadi mbak Fany, aku pasti nyesek banget…. Sebagai kekasih yang tak dianggap aku hanya bisa mencoba mengalah~ *nyanyi* *dihajar Khun*

Oke lupakan saja! Yang pasti aku ikut seneng kok pas tahu kakak Khun sama mbak Fany pacaran. Kakak Khun ganteng, mbak Fany cantik, cocok! Kalau kata Rima sih, “aku penasaran ntar anaknya kaya gimana.” Dan yah, aku juga~

Aku tahu sih ga semua fans bisa nerima idolanya punya pacar. Aku juga meskipun nerima dan ikut seneng liat mereka punya pacar tapi tetep aja rasanya ada yang beda gitu. Solusinya? Cari idola baru yang lebih muda! Jadi meskipun nanti Taec punya pacar, selama ada Jinyoung, Bambam, dan Jaehyung, aku sih rapopo~

Selama masih ada mereka aku rapopo~

People have different perspectives. You don’t have to understand them, but try not to force yours onto someone else and accept theirs as well. – Ok Taecyeon

Kamis, 27 Maret 2014

Pesta Demokrasi Indonesia

Hmm, sebenernya aku ga lagi pengen nulis yang serius-serius sih. Ini cuma sekedar curhatan aja selama jadi pengamat kampanye beberapa hari belakangan. Jujur aku ga terlalu ngerti dan peduli sama politik, meskipun nilai matkul Daspol dan Kompol dapet A *sombong dikit*

Oke, jadi gini, hari minggu kemarin ada satu partai yang lagi kampanye di lapangan deket rumah. Sebenernya aku ga akan terlalu peduli kalau mereka cuma orasi atau apalah asal tetap di lapangan itu. Masalahnya, mereka punya semacam kelompok bermotor yang kerjaannya keliling-keliling dengan knalpot yang berisiknya minta ampun! Mana sok-sokan dipakein nada pula, berisik mah berisik aja mau dinadain pake Hands Up-nya 2PM juga.

Yang perlu digaris bawahi, mereka keliling ngelewatin rumahku berkali-kali, sepanjang hari! Gimana ga frustasi? Hari mingguku yang harusnya tenang dan damai dirusak oleh polusi suara dan polusi udara dari orang-orang tidak bertanggung jawab! Rasanya pengen nimpukin itu yang bawa motor satu-satu -.-

Beberapa hari sebelumnya aku pernah ketemu orang-orang yang kampanye pake motor berisik kaya begitu di jalan. Tapi waktu itu aku pikir mereka kampanye macam itu cuma di jalan besar aja, taunya sampe kampung-kampung juga. Mbok ya kalau kampanye itu jangan mengganggu kenyamanan. Kalian bisa dituntut dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan loh. *sok tahu*

 Lagian ya, kalau belum apa-apa udah nyebelin kaya gitu, gimana nanti kalau kepilih? Apa ga tambah nyebelin? *uhuk*

Kampanye Tidak Sehat

Selain kampanye tidak menyenangkan yang merusak ketentraman macam itu, aku juga mengamati kampanye di televisi. Yah, gimana ga ngamatin, setiap hari aku nonton tv, dan setiap saat muncul iklan partai politik atau calon presiden di semua stasiun tv. Sebagai anak komunikasi aku merasa miris liat iklan-iklan itu. Semua partai dan calon presiden berlomba-lomba menampilkan citra baik di hadapan masyarakat. Parahnya, mereka berbaik saling menyalahkan untuk satu hal yang buruk. itu kampanye yang ga sehat!

Tahu kan iklan salah satu partai yang mengklaim kemajuan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi (yang belum jelas juga benernya) adalah hasil kerja keras partainya? Terus masyarakat bilang terima kasih sama partainya dan ketua umumnya? Itu apa banget deh.

Ada juga partai yang pake kode-kode warna. Mereka bilang, “langit masih biru tapi padi sudah mulai menguning”. Awalnya aku ga ngerti apa hubungannya padi menguning sama langit yang masih biru. Emangnya padi cuma menguning dimalam hari? Ternyata, oh ternyata, ada makna tertentu dibalik kalimat itu.

Oh, dan satu iklan partai yang menurutku paling lucu, dimana poster sang ketua umum disandingkan dengan idol k-pop (meskipun aku ga tahu itu siapa)! Iya sih mereka ngincer suara anak muda, tapi ya ga gitu juga kali. Eh tapi, kalau disandinginnya sama 2PM boleh deh aku coblos. Iya, poster ketua umumnya aku coblos terus poster 2PM-nya aku ambil~

Andai…

Pemilu tahun ini jadi pemilu pertama bautku. Soalnya lima tahun yang lalu umurku masih kurang beberapa bulan buat nyoblos. Sayangnya, pemilu kali ini pun aku dipastikan ga akan nyoblos. Bukan, bukannya aku terlalu apatis dan ga mau menggunakan hak suaraku. Masalahnya, ongkos Jogja-Bandung-Jogja itu mahal! Lagian hari pemilihannya hari rabu, gimana bisa pulang pergi dalam sehari doang. Coba kalau hari jumat atau senin gitu. Kan jadinya orang-orang yang diluar daerah punya waktu tiga hari buat pulang kampung.

Sebenernya bisa aja sih aku ngurus surat keterangan tinggal sementara biar bisa nyoblos disini, tapi birokrasinya ribet. Masa harus dari RT, RW, Kelurahan, sampe Kecamatan kita datangin. Dan sepertinya ayah dan ibu juga ga berniat mengurus itu, jadi yah ngapain juga aku ribet-ribet ngurus sendiri kalau orang tuaku juga nggak. *emang dasarnya males aja sih*

Kadang aku mikir, adai pemilu di Indonesia bisa lewat online gitu. Jadi kalau mau milih tinggal masuk ke situsnya, masukin nomer ktp sama password, terus pilih deh. Kan simple dan ramah lingkungan. Aku sedih loh nonton berita di tv tentang ribuan kertas suara yang harus dimusnahkan karena cacat. Bayangin, itu dari berapa pohon? Dan mereka dibakar gitu aja tanpa digunakan hanya karena tidak sempurna….

Yah, pastinya masih lama sih kalau mengharapkan pemilu di Indonesia bisa kaya di Amerika. Untuk sekarang sih aku cuma bisa berharap ga ada lagi kampanye dengan motor gerung-gerung, ga ada lagi iklan saling sindir, dan ga ada lagi politik uang. Marilah rayakan pesta demokrasi di Indonesia dengan hal-hal positif yang bisa memajukan bangsa. Dan gunakan hak suara kalian dengan bijak ;) *sok banget padahal sendirinya ga pake hak suaranya*