Selasa, 27 Februari 2018

Catch The Bull in Jakarta

Musim baru MotoGP memang baru dimulai bulan Maret, tapi pre-season test sudah dimulai bahkan sejak sehari setelah balapan terakhir di Valencia. Aku sih paling nunggu pre-season test di Sepang dan Buriram (yang dipake test ngegantiin Philip Island karena sirkuit baru). Kenapa? Karena akhirnya mereka berada di time zone yang sama denganku! Jadi ga perlu ngitung harus tambah berapa jam buat tahu waktu test lagi deh~ But actually, alasan utamanya sih karena berharap ada pembalap yang nyimpang ke Indonesia lol

Menjelang test di Sepang Suzuki dan Ducati pun update kalau mereka mau mampir ke Indonesia setelah test. Ducati bahkan ngadain kuis buat bisa ketemu pembalapnya. Disaat galau mau ikutan kuisnya atau ngga, datanglah kabar dari Honda kalau mereka mau launching motor di Jakarta tanggal 20 Februari (aka setelah test di Buriram). Jadilah aku putuskan untuk skip Ducati dan nungguin kuis dari Honda aja yang biasanya lebih loyal sama fans. Lagian masih sebel juga sama oknum “real fans”-nya Jorge tahun lalu (sebenernya sih karena emang ga punya motor buat foto lol).

Buat yang mau ketemu Andrea(29) dan Alex(42)

Hanya untuk "real fans" XD

Honda cinta Indonesia~

Dua hari sebelum test, disaat pembalap yang lain pada update kalau udah sampai di Sepang, Mack malah tiba-tiba update dengan location Jakarta! Why Yamaha, Why?! Kebiasaan banget deh mereka itu tahu-tahu udah di Jakarta aja! Walaupun tahun ini masih mending sih karena Vale ikut kerja dan ga tiba-tiba kepergok lagi nongkrong di warteg sama pak polisi. Tapi sebelnya, pas lagi iseng kepo temennya Vale aku malah nemu hotel tempat mereka nginep. Damn, kalau aku di Jakarta mah langsung aku samperin deh.

Ketika test di Buriram sudah dimulai, aku dan temanku, Ria, yang udah nekat beli tiket kereta ke Jakarta tanggal 20 mulai galau karena ga ada info juga soal acara Honda di Indonesia. Padahal biasanya Honda yang paling rajin bikin kuis setiap pembalapnya mampir ke Indonesia. Kenapa pas kita mutusin buat pergi malah ga ada kabar sama sekali?! Akhirnya kita pun bikin Plan B yang intinya, kalau ga ada info juga dan kita ga nemu hotel mereka kita main aja lah ke Monas.

Kita pun sampai latihan cari hotel mereka di Buriram demi melancarkan rencana jadi sasaeng di Jakarta! Emang kepo aja sih itu mah sebenernya. Ga nyangka juga si Ria bisa nemuin hotelnya Honda dari kolam renang yang di-upload Dani di instagram (hasil ngubek-ngubek hotel di Buriram selama tiga bulan tidak sia-sia lol). Dan kemudian aku pun menemukan bukti kalau Yamaha juga nginep di Hotel yang sama dari kolam renang yang di-upload Vale…. Ciee, ada yang ngerayain ulang tahun barengan di Buriram~ XD

Kereta Pertama dan Pintu Monas

Tanggal 20 Februari, perjalanan tanpa arah dan tujuan kami pun dimulai. Aku bela-belain bangun sebelum subuh demi ngejar kereta lokal pertama dari stasiun Cimekar sebelum ketemuan sama Ria di stasiun Bandung. Untungnya adikku lagi ada di rumah jadi lah bisa kupaksa nganter ke stasiun, karena kalau dipikir-pikir serem juga kalau harus jalan kaki sendiri di tanggul subuh-subuh.

Nyubuh di stasiun

Sambil menunggu kereta pertama yang (seperti biasa) telat sepuluh menit, Ria kembali menunjukkan keahliannya dalam hal kepo dengan menemukan hotel yang ditempatin Honda dari tangga yang di-upload Marc di Instagram! From a freaking stairs!! Stalking level yang mengkhawatirkan….

Find a hotel name from the stairs? No problem!

Setelah ketemu Ria di stasiun Bandung, urus tiket, beli sarapan buat Ria, dan naik turun kereta demi sampai ke peron yang tepat akhirnya kami pun bisa duduk nyaman di kereta ekonomi Argo Parahyangan yang ber-AC dan ada TV-nya. Walaupun kita terpaksa duduk terpisah karena beli tiket promo demi potongan harga 15ribu tapi akhirnya kita duduk bareng juga karena ternyata kursi sebelahku kosong bahkan setelah Cimahi (and I got that window seat! lol). I don’t know I was that lucky, tapi untung juga sih karena kita jadi bisa menyusun rencana apa yang akan kita lakukan setibanya di Jakarta nanti.

Gerbong ekonomi Argo Parahyangan (credit: riyuliani)

Dari kabar yang kita dapat dari fans-nya Marc, acara Honda ternyata di JIExpo tapi acaranya privat dan ga terbuka untuk umum. Kita sempat mikir untuk nyusul ke hotel mereka karena acaranya masih jam 3 sore, but I really have a bad experience about stalking to the hotel. Waktu lagi cari update soal aktifitas duo Repsol di Jakarta kita tiba-tiba menemukan foto promosi Marc dan Dani di Ini Talkshow nanti malam. I was like, serius nih? Bukan editan? Because please, kenapa ga bilang dari jauh-jauh hari sih?! Kita pun langsung cari tahu cara nonton langsung Ini Talkshow. Coba kirim email dan sms tapi ga ada respon sama sekali. Okay bye, mari kita lupakan saja T.T

Setelah pertimbangan panjang akhirnya kita memutuskan untuk… main ke Monas dulu! Sekali-kali gitu jadi turis dalam negeri (dan karena biar ada alibi soal pergi ke Jakarta lol). Baru setelah itu kita rencananya pergi ke JIExpo, siapa tahu kan bisa liat batang hidungnya Marc sama Dani.

Sampai Gambir sekitar jam 10 dan ternyata Monas ada di depan mata! Tapi… masuknya lewat mana?! Kita yang emang hobinya jalan (like literally jalan) akhirnya memutuskan untuk mengelilingi Monas demi menemukan pintu masuk. Dan ternyata pintu masuk yang terbuka ada di ujung lain Monas, yang artinya kita jalan menyusuri separuh Monas. Masih mending kita ga salah belok dan harus jalan satu keliling sih (masih berusaha mencari sisi positif).

Masuknya lewat mana?! (credit: riyuliani)

We found the door! (credit: riyuliani)

Finally we are in!

Ngalay di Monas~

Setelah puas foto-foto di halaman Monas kita pun langsung membeli tiket untuk naik ke puncak. Lagian, masa udah capek-capek cari pintu masuk ga naik ke puncak, sayang banget. Harga tiketnya lumayan murah kok, 5ribu untuk sampai ke cawan + 10ribu untuk sampai ke puncak = 15ribu untuk satu tiket dewasa. Ada kejadian lucu saat beli tiket. Waktu kita bilang dua tiket dewasa ke puncak mas penjual tiketnya malah nanya, “dewasa dua-duanya?” Ya menurut anda?! Tapi yah, aku mah dikasih harga anak-anak juga ga nolak sih lol.

Pas lagi antri menuju puncak (please jangan dinyanyiin, ntar ketahuan umurnya lol) kita sempet-sempetnya cari update soal duo Repsol. Ternyata Edu, temennya Dani (atau asistennya?), update instagram story sekitar satu jam sebelumnya dengan men-tag location hotel mereka. Rasanya jadi pengen komen, “Telat! Kita udah tahu dari tangganya!”

Karena yakin mereka masih di hotel kita pun santai aja menikmati gelebuk (udah bukan semilir lagi) angin di puncak Monas. Foto-foto narsis pun tak boleh ketinggalan.

Hello Jakarta~

Akhirnya kesampaian juga ke puncak Monas!

Ketika melihat antrian lift turun berkurang kita pun memutuskan untuk turun sebelum masuk angin. Ternyata lift turun berhenti di area cawan, jadi kita harus turun tangga lagi untuk sampai ke bawah. Karena merasa kita udah bayar buat ke cawan juga akhirnya kita pun memutuskan untuk mampir dulu di sana (emang orangnya ga mau rugi banget). Area cawan lebih sepi karena orang-orang biasanya langsung turun, jadi lebih asik buat foto-foto sih.

Selfie di cawan Monas

Tinggi, tinggi sekali~

Setelah merasa 15ribu terbayarkan kita akhirnya turun dan kembali mencari update soal Marc dan Dani (karena mereka tetap jadi tujuan utama kita ke Jakarta lol). Eh ternyata mereka berdua udah ada di JIExpo dong! Kita pun memutuskan untuk langsung ke JIExpo, tapi….

Godaan Itu Bernama Gratis

Saat keluar Monas kita melihat kereta wisata yang bisa membawa pengunjung ke lapangan parkir IRTI (yang entah ada di mana). Karena males jalan dan mikir toh kereta itu juga pasti bawa kita ke pintu keluar (dan yang terpenting karena gratis!), akhirnya kita pun memutuskan antri bersama rombongan anak SD (untungnya kita ga pake baju putih merah, nanti disangka kakak kelas lol).

Setelah sampai dan keluar dari area Monas kita pun berencana pesan grab untuk ke JIExpo. Sayangnya, manusia hanya bisa berencana namun Tuhan lah yang memutuskan, tiba-tiba sinyal internet kita berdua hilang (ada tulisan 4G tapi ga ada koneksi internet sama sekali). Melihat halte busway di depan aku pun mengusulkan untuk coba naik busway, siapa tahu kan ada yang lewat JIExpo. Tapi waktu kita jalan menuju halte Ria tiba-tiba menghentikan langkah saat melewati bus double-decker, dan itu hanya karena tulisan gratis! Dasar ga bisa liat yang gratisan….

Jakarta Skyscrapers (credit: riyuliani)

Gara-gara tulisan ini! (credit: riyuliani)

Emang ga bisa liat yang gratisan lol

Dengan alasan Marc dan Dani udah masuk ke JIExpo dan ga mungkin keluar sampai acara yang jam 3 nanti selesai, kita pun akhirnya naik bus gratis bernama Jakarta Skyscrapers itu tanpa tahu arah dan tujuan. Ternyata bus gratis ini rutenya cuma keliling doang, dan mereka ngetem selama satu jam di Bunderan Senayan sebelum balik lagi ke Juanda (yang ternyata cuma berada di seberang Monas).

Sempat ada drama pula di Bunderan Monas ketika bus yang kita tumpangi menabrak (ditabrak?) mobil. Crew bus pun berdebat panjang lebar dengan si pengendara mobil di halte Museum Nasional. Karena merasa akan lama kita pun berniat turun di halte ini saja karena ternyata waktu sudah menunjukkan jam 2 lewat (thanks to ngetem satu jam). Sayangnya, saat kita sudah turun dari bagian atas bus kita baru tahu kalau ternyata pintu busnya ditutup. Jadilah kita pun akhirnya menunggu (yang untungnya ga terlalu lama) dan lanjut sampai Juanda. Turun di Juanda kita pun tidak buang-buang waktu lagi dan langsung pesan grab menuju JIExpo. Marc, Dani, tunggu kami~

Mau Ngapain?

Sebenernya pertanyaan ini sudah aku dapatkan sejak aku pamit ke Jakarta sehari sebelumnya. Waktu aku bilang aku mau ke Jakarta ibuku langsung nanya, “mau ngapain?” Dan dengan cueknya aku jawab, “main, naik kereta sama temen.” And you know what she said? “Euweuh gawe.” (Dan Ria pun bilang kalau dia dapat komentar yang sama dari ibunya lol)

Dan pertanyaan itu pun terus-terusan kita dapatkan selama perjalanan ini. Mas grab yang kita pesan dengan herannya bertanya kenapa kita malah minta dianter ke JIExpo dan bukan Kota Tua setelah tahu kalau kita lagi jalan-jalan dari Bandung.
“Mau ngapain ke JIExpo mbak? Di sana mah ga ada apa-apa, mending ke Kota Tua,” kata si mas grab.
“Main aja mas,” kata Ria.
“Di sana mah ga rame kalau lagi ga ada acara mbak,” kata masnya lagi.
“Iya mas, kita cuma mau ketemuan sama temen dulu di sana.” Dan aku pun ga bisa nahan ketawa denger alasan yang dikasih Ria. Because please, temen apaan? Temen dari Spanyol?! XD

Sampai di JIExpo kita pun dapat pertanyaan itu lagi saat nanya letak mushola ke satpam di gerbang. Kita bahkan sampai disangka mau ngelamar kerja! Rasanya jadi pengen nanya, “emang di sini ada lowongan kerja?” lol

Ketika kita ga berhasil menemukan mushola dari pertunjuk yang dikasih pak satpam, kita pun memutuskan ganti target cari toilet karena dapat panggilan alam yang mendesak. Tapi dari sekian banyak toilet di JIExpo semuanya dikunci! Kata mbak petugas kebersihan toiletnya emang dikunci kalau lagi ga ada acara. Dan pertanyaan itu pun muncul lagi, “emang mau ngapain ke sini mbak?” Aduh, kenapa semua orang pada kepo sih?! Akhirnya kita pun cuma jawab “ga apa-apa,” sambil cengar-cengir geje. Untungnya si mbak berbaik hati ngasih tau kalau ada toilet di gedung besar sana setelah menatap kita dengan curiga.

Setelah masuk ke gedung yang ditunjuk mbaknya kita pun akhirnya melihat toilet yang terbuka. But wait, itu orang-orang yang nunggu di pintu masuk satunya apa bukan fansnya Marc? Jangan bilang acaranya ternyata di gedung ini juga?!

Setelah memenuhi panggilan alam kita kembali ketujuan awal cari mushola (masa Dani sama Marc aja kita kejar sampai Jakarta, surga ga kita kejar?!). Karena kata mbak petugas kebersihan di toilet mushola ada di lantai 4, kita pun dengan pedenya menuju lift. Dan lihat apa yang kita temukan di depan lift….

They are here! (credit: riyuliani)

Wow, we are already in the right place!

Beres sholat kita pun memutuskan cari colokan dulu karena baterai HP yang mulai sekarat. Bisa gawat nanti kalau ketemu Dani sama Marc tapi HP mati, ga bisa ada bukti kalau kita ketemu mereka. Saat lagi celingak-celinguk nyari colokan pertanyaan itu kembali muncul, “mau ngapain mbak?” kata mas-mas yang sepertinya curiga liat kita di sana. Maaf ya mas, kita emang terlihat mencurigakan, tapi kita ga ada niat jahat kok.

Setelah lepas dari tatapan curiga mas-mas tadi kita berhasil menemukan colokan di samping pintu tangga darurat. Kita pun akhirnya duduk lesehan di sana sambil streaming acara launching Honda. Agak ngenes juga sih, mereka cuma berjarak dua lantai dari kita dan kita tetep cuma bisa liat dari streaming. Sedih :’(

Crazy (but cute) Marquez and Sweet Dani

Setelah acara selesai kita pun memutuskan untuk turun dan bergabung dengan fans Marc di bawah sana. 5 menit… 10 menit… 15 menit.... Kok mereka ga turun-turun juga ya? Padahal bisnya udah stand by dari tadi, ga sayang bensin apa?

Nguping sekuriti katanya sih Dorna minta waktu tambahan 10 menit untuk wawancara. Oke, mari kita tunggu lagi. 10 menit… 20 menit…. Ini Dorna satu menitnya bukan enam puluh detik kali ya?!

Dan akhirnya, setelah penantian panjang Ria dengan hebohnya bilang “Itu mereka! Lagi turun di lift!” Aku pun langsung buka aplikasi kamera di-HP (yang baterainya udah kurang dari 30%) dan stand by buat video. Dan mereka pun lewat begitu saja….


I was like, “udah gitu doang?” Terus aku denger fans Marc pada heboh depan bis. Ternyata anak itu ngasih fanservice dari dalam bis, luar biasa!

Ini bocah fanservice-nya luar biasa!

Karena depan bus penuh dengan fans Marc aku pun pindah ke samping dan berusaha menarik perhatian Marc dari jendela supir yang terbuka. Tapi meskipun aku berkali-kali teriak “Marc, behind you!” dia ga noleh juga. Sampai akhirnya saat dia udah mau pergi aku pun teriak “Marc, see you in November!” dan dia noleh!! Aku di-notice Marc! (Dan mas-mas di depanku langsung curi kesempatan buat salaman…. Woy, aku yang manggil itu! T.T)


Ngeliat aku dan Ria yang heboh karena di-notice tiba-tiba muncul mas-mas yang dengan bangga nunjukkin selfie dia sama Marc di hotel tadi malem. Aku pun dengan polosnya bilang, “Aku bukan fans Marc kok.” And he looks at me like judging “then why you are screaming his name?” lol

Ketika aku kira kehebohan sudah berakhir, fans Marc pada pindah ke samping bus dan mulai heboh di bawah kaca jendela Marc. Marc pun dengan baik hati ngasih fanservice lagi, Martinez pun bahkan sampai ikutan nongol. Aku dan Ria yang ada di belakang para fans Marc itu pun loncat-loncat buat ngeliat ke dalem bus sambil teriak “Where’s Dani?!” Dan tiba-tiba Dani berdiri dan melambai ke arah kita (cuma kita yang loncat-loncat dan teriak nama dia, so pasti dia melambai ke kita kan?). kita di-notice Dani juga!! T.T

Can you see Marc and Dani? lol

Aku kembali mempertanyakan diriku sendiri, why I’m not a Repsol Honda stan again?

Pada akhirnya bus yang membawa Marc dan Dani pun pergi. Aku dan Ria pun kembali diingatkan pada kenyataan kalau kami pun harus pulang ke Bandung. Lagi asik diskusi mau pulang naik apa tiba-tiba ada mas-mas fans Marc yang nyamperin kita lagi, kali ini ga pamer selfie sih. Dia ngajak kenalan dan kaget pas tahu kita dari Bandung. Dan pertanyaan laknat itu pun muncul, “kalian bolos sekolah demi ke sini?” Please, kita udah lama ga sekolah kali mas. We and Marc are same-age friends~

Beres basa-basi sama fans Marc kita pun memutuskan untuk order grab menuju Gambir. Yes, kita memutuskan untuk pulang naik kereta lagi, walaupun akhirnya ga kekejar naik yang jam 6 dan harus nunggu kereta berikutnya.

So tell me which way to go~

Di kereta, setelah kenyang makan ayam (jauh-jauh ke Jakarta tetep aja makannya ayam) kita pun mengeluarkan headset dan siap-siap nonton Ini Talkshow. Tapi ya yang namanya dalam perjalanan, sinyal pun muncul dan tenggelam sesuka hati. Masih untung bisa nonton sih walaupun kebanyakan buffering-nya. Kita bahkan sempet-sempetnya ikutan kuis (meskipun ga menang).

Ikutan kuis itu wajib lol

Walaupun buffering puas banget ketawa-ketawa nonton duo Repsol (plus Martinez) nari jaipongan sampai diliatin penumpang lain. Tapi sedih juga pas mereka ditanya udah kemana aja di Indonesia jawabannya cuma Bali, Jakarta, dan Sentul Circuit. Duh Marc, Indonesia lebih luas dari itu kali. Makanya main ke Bandung dong, nanti aku ajak ke Curug Panganten (yang aku sendiri pun belum pernah) sama jajan es cendol. Kalau mau aku beliin Paella versi Indonesia juga deh, nasi kuning doang kan? XD

Setelah melihat kegilaan Marc dan Dani I think I have an answer for the previous question. I just can’t handle another secondhand embarrassment lol cukup DAY6 saja!

We are back~

And our random trip end when we arrived in Bandung. Perjalanan kemarin benar-benar masuk kedalam daftar “Crazy Things I Did in Life” and I’m not complaining. Asik juga sekali-kali melarikan diri dari rutinitas dan melakukan apa yang orang bilang euweuh gawe. Hidup itu cuma sekali, mari kita nikmati~

Sabtu, 27 Februari 2016

[Fan Fiction] Let's Drink!


Let's Drink!
Wafda S. Dzahabiyya

“Ayo Jinyoung-ah, minum!”

Jinyoung tersenyum dan mengulurkan gelasnya, menerima tuangan soju dari Wooyoung. Saat ini mereka, dan semua artis JYP Nation, sedang berada di salah satu restoran terkenal di Seoul untuk merayakan suksesnya konser keluarga yang telah berlangsung selama dua hari. JYP Entertainment sengaja menyewa sebuah ruangan besar di bagian belakang restoran tersebut untuk semua idol, dancer, dan staff. Suara percakapan yang penuh dengan tawa terdengar dari setiap sudut ruangan, semua tampak bergembira.

“Aku ingat dikonser sebelumnya kau masih belum bisa minum,” kata Junho. Pemuda itu kemudian ikut menuangkan soju ke gelas Jinyoung yang telah kosong. Jinyoung hanya terkekeh dan langsung meneguk habis minuman di gelasnya.

“Kita belum pernah minum bersaa sejak kau resmi menjadi dewasa.” Taecyeon ikut menimpali, sekarang gilirannya menuangkan soju untuk Jinyoung.

“Itu bukan karena kau tidak mau minum bersama kami kan?” goda Junho.

Jinyoung nyaris tersedak ketika mendengar kata-kata dari seniornya itu. Buru-buru ia membantah, “Ani, hyung! Kau yang terlalu sibuk dan tak pernah mengajakku minum.”

Ketiga senior di depannya tertawa, membuat Jinyoung hanya bisa tersenyum kecil.

Kau tahu, kau lebih sibuk dari pada aku akhir-akhir ini,” Wooyoung berkata sambil kembali mengisi gelas pemuda yang lebih muda darinya itu.

Tentu saja, the hottest rookie group of the year!” Taecyeon berkata dalam bahasa inggris.

“Hey, Hottest itu fans kita!” protes Junho, membuat mereka semua kembali tertawa.

Kali ini Jinyoung tertawa pelan sebelum meneguk soju di gelasnya.

Jangan paksakan dirimu.” Jinyoung menoleh dan menemukan Jaebum berbisik kepadanya. Tapi bisikan itu ternyata cukup kencang hingga Junho yang berada di depan Jaebum bisa mendengarnya.

Apa? Dia tidak bisa minum?” Junho bertanya, membuat rekan setimnya melihat ke arah jinyoung dengan penasaran.

Ani, aku –”

Dia tidak bisa minum terlalu banyak hyung,” jelas Jaebum.

Benarkah?” Wooyoung menoleh pada Jaebum, menatapnya tidak percaya.

“Yeah, setiap kali kita pergi dia tidak pernah minum banyak.”

Hyung!” Jinyoung tidak percaya Jaebum mengatakan hal tersebut pada senior mereka.

Dan alasannya selalu, harus ada satu orang yang tetap sadar di antara kita.” Jackson tiba-tiba ikut menimpali percakapan itu, tapi fokusnya tetap tertuju pada daging di panggangan.

Jinyoung memutar bola matanya, tak sengaja pandangannya bertemu dengan gadis di sisi lain meja itu. Selama beberapa saat mereka saling bertatapan, sampai seseorang berbicara pada gadis itu. 

“Suji-ya, ayo minum lagi!”

Suji menoleh dan menemukan Sunmi sudah menuangkan soju ke gelasnya. Suji tersenyum dan meneguk habis minuman tersebut.

“Wow, kau minum dengan baik.” Yeeun terkekeh dan mengisi kembali gelas Suji.

Dia peminum yang paling baik di antara kita,” kata Fei yang langsung mendapat persetujuan dari Jia.

“Oh, benarkah?” Sunmi menatap Suji tak percaya, membuat gadis itu hanya bisa tertawa canggung dan meneguk soju di gelasnya.

Dia pasti sudah terlatih karena sering minum bersama staff drama dan film, benar kan?” Min menggoda maknae  mereka itu. 

Ani, aku –”

“Woah, Jinyoung-ah, bagaimana bisa kau kalah dari Suji?” Junho yang diam-diam mendengarkan percakapan para gadis itu berbalik untuk menggoda Jinyoung.

“Hey, kemana Jinyoung?” tanya Wooyoung, dia baru menyadari bahwa pemuda itu sudah tidak ada di hadapannya.

Dia baru saja keluar, mungkin untuk mencari udara segar,” jawab Jaebum.

Apa dia sudah mabuk?”

Suji menatap kursi Jinyoung yang sekarang sudah kosong sebelum memutuskan untuk berdiri.

“Hey, kau mau pergi kemana?” Fei bertanya pada gadis itu.

Aku harus pergi ke toilet,” kata Suji sambil cepat-cepat pergi sebelum yang lain ikut bertanya padanya

Gadis itu tersenyum kepada para staff dan dancer saat ia melewati meja mereka, dia bahkan tidak lupa menyapa para maknae yang sibuk berebut daging. Suji melangkah ke bagian belakang restoran, berlawanan arah dari toilet yang menjadi alasannya pergi. Dia sudah cukup familiar dengan tempat tersebut. Ketika JYP Nation mengadakan konser keluarga dua tahun yang lalu, mereka juga menggelar after party  di restoran ini.

Suji menggeser pintu kaca yang mengantarkannya ke taman belakang restoran tersebut. Taman itu cukup besar, dengan penerangan yang minim pun gadis itu masih bisa merasakan keindahannya. Rumput hijau dengan jalan berbatu, sungai buatan kecil beserta jembatannya, dan juga berbagai jenis tanaman dan bunga tertata dengan cantik di sini. Suji tersenyum ketika ia melihat sosok yang ia cari ternyata benar-banar berada di tempat ini, duduk di pembatas jembatan, menatap bulan purnama yang bersinar terang.

Apa yang kau lakukan di sini?” Suji bertanya sambil berjalan ke arah pemuda itu.

Pemuda tersebut, Jinyoung, menoleh dan tersenyum ketika melihat siapa yang datang. Dia kembali menatap langit malam ketika gadis itu telah berada di sebelahnya, menyandarkan punggungnya pada pembatas jembatan dan melihat ke sisi lain taman tersebut.

Keunyang,” kata pemuda itu. “Kau ingat dua tahun yang lalu?”

“Yeah, karena itulah aku tahu kau ada di sini.”

Jinyoung tertawa mendengar jawaban Suji. “Aku masih ingat saat itu kita melihat ke arah mereka dengan pandangan iri, berharap mereka akan menuangkan minum untuk kita juga.

Dan akhirnya kita kabur ke tempat ini karena merasa diabaikan,” tambah Suji. 

Keduanya tertawa mengingat bagaimana mereka melarikan diri, dua tahun yang lalu tepat di tempat ini, berpura-pura mabuk dengan dua botol cola.

Sekarang, bagaimana perasaanmu?” Suji bertanya setelah tawanya mereda.

Tidak sebaik yang aku bayangkan,” Jinyoung menjawab ringan.

Aku rasa menjadi maknae lebih menyenangkan.” Suji teringat saat ketika ia melihat para maknae berebut daging dengan berisik

“Yeah, mereka memberikan kita daging yang paling besar.” 

Suji terkekeh pelan. Dia kemudian memutarkan tubuhnya, meletakkan kedua tangannya di pembatas jembatan dan ikut menatap bulan purnama. Selama beberapa saat keheningan tercipta di antara mereka.

“Hey, Aku baru tahu kau tidak bisa minum.” 

Jinyoung menatap ke bawah dan melihat Suji sedang tersenyum menggoda ke arahnya. Pemuda itu mendengus sebelum membalas,Aku baru tahu kau peminum yang hebat.”

Mereka berdua tertawa sekali lagi sebelum melepaskan pandangan mereka satu sama lain dan suasana tenang kembali menyelimuti mereka.

“Jinyoung-ah.”

“Hmm?”

Ayo kita adu minum lagi suatu hari nanti.”

***

Also posted on asianfanfics in english.

Kamis, 25 Februari 2016

[Fan Fiction] You and Me: Friends

(Sumber dari sini)
 You and Me: Friends
Not a continuation for Fate
Wafda S. Dzahabiyya

“Di mana kau?” tanya Jaebum langsung setelah Jinyoung menjawab teleponnya.

“Huh?” Itu satu-satunya kata yang berhasil keluar dari mulut Jinyoung. Dia bukannya tidak tahu alasan leader-nya itu bertanya.

“Bambam bilang dia sendirian di dorm. Jadi, pergi kemana kau?”

“Dia tidak sendiri, Seunghoon hyung juga ada di sana. Dan ya, aku sudah bilang padanya aku harus pergi sebentar.”

“Itu bukan pertanyaanku.”

Jinyoung tertawa pelan sebelum berkata, “Aku tahu kau akan mengomel soal itu juga, hyung.”

“Di mana kau?” Jaebum bertanya sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut.

Jinyoung tidak langsung menjawab. Pemuda itu menengadah, memandang langit malam. Tak ada bulan atau pun bintang malam ini, hanya hamparan gelap langit di atas kepalanya. Dia mengalihkan pandangannya, menatap terangnya lampu perkotaan di hadapannya. Kemudian ia menurunkan kepalanya dan berakhir mengamati pantulan cahaya di air.

“Han-gang,” akhirnya ia berkata. Jinyoung bisa mendengar Jaebum menghela napas di seberang sana sebelum ia memberikan pertanyaan lain.

Apa kau baik-baik saja?” Sekarang giliran Jinyoung yang menghela napas.

“Aku baik-baik saja hyung,” Jinyoung berhenti beberapa saat. “Apa kau sudah melihatnya?”

“Belum, tapi aku yakin Youngjae mengatakan sesuatu tentang kau yang beruntung bisa high-five dengan dia.”

“Apa aku beruntung?” Jinyoung tersenyum kecil.

“Tergantung sudut pandangnya. Dari sudut pandang Youngjae, Ya, kau beruntung.” Dari suaranya Jinyoung tahu Jaebum tengah menyunggingkan senyum miring khasnya.

“Dari sudut pandangmu?”

“Oh, kau beruntung bisa menjadi MC untuk music show.” Jinyoung tertawa, ia tahu hyung-nya itu sedang mencoba menghiburnya.

“Terima kasih hyung.”

“Tak masalah. Sekarang, cepat kembali ke dorm. Kau harus mengejar penerbangan besok pagi. Dan aku tahu kau kena gejala flu sejak semalam, kau bisa terkena demam kalau –”

“Aku tahu hyung, aku tahu.” Jinyoung tertawa sekali lagi, sampai...

“Jinyoung-ah?” Dan Jinyoung membeku. Suara itu...

“Tunggu, apa itu dia?” Jinyoung bisa mendengar suara terkejut Jaebum dari telepon genggamnya.

Jinyoung berbalik, dan itu benar-benar dia. Gadis itu menatap Jinyoung, masih dengan tatapan mata yang sama yang berusaha ia hindari seharian ini.

“Hey, apa kau pergi ke Han-gang untuk bertemu dengannya? Jinyoung-ah, apa yang kau –”

“Aku akan menghubungimu lagi nanti hyung.” Jinyoung menutup sambungan teleponnya, matanya masih tetap fokus pada gadis di hadapannya. Gadis itu masih berdiri di sana, tanpa senyum, tanpa mengatakan apapun, hanya menatap kearahnya. Jinyoung benci tatapan itu. Tatapan yang membuatnya lemah, membuatnya tidak dapat melakukan apapun

“Suji-ya…,” akhirnya ia berkata.

Suji memutus kontak mata mereka sebelum berjalan dan duduk di sebelah Jinyoung di bangku taman itu.

Apa yang kau lakukan di sini?” dia bertanya tanpa melihat ke arah Jinyoung. Matanya bergerak mengamati sungai di hadapan mereka.

Jinyoung berbalik dan kembali melihat ke arah sungai seperti gadis itu sebelum menjawab.

Mungkin alasan yang sama dengan kenapa kau ada di sini.”

Keheningan muncul di antara mereka dan sepertinya Jinyoung merasa ini lebih baik. Dia mempunyai banyak hal dalam pikirannya, tapi dia tak tahu bagaimana mengatakan hal tersebut dengan kata-kata. Dia tahu dia bertindak pengecut, tapi dia juga tidak siap untuk mendengar apapun dari gadis itu.

Kamu bagus dalam menjadi MC.” Jinyoung menghela napas ketika Suji memutuskan mengakhiri keheningan itu, tapi ia mencoba membuat bibirnya melengkung ke atas

Terima kasih. Kau juga sudah menampilkan yang terbaik,” dia berkata sambil menundukkan kepalanya untuk melihat ke arah kaki gadis itu. “Bagaimana kakimu?” 

“Sekarang sudah membaik.”

Jinyoung menengadah dan menatap kosong ke arah langit ketika keheningan memutuskan untuk muncul sekali lagi di antara mereka. Dia tidak bisa menghentikan matanya untuk diam-diam melirik gadis di sampingnya itu ketika angin musim semi berhembus. Gadis itu hanya mengenakan t-shirt dan jeans. Memang ini tidak terlalu dingin, tapi ini juga bukan malam yang hangat.

Rasanya sudah sangat lama sejak kita datang ke sini bersama-sama.” Suji sekali lagi membuka percakapan, dan kata-katanya membuat Jinyoung berpikir untuk beberapa saat.

Sebenarnya ini memang sudah sangat lama sejak kita pergi bersama,” dia akhirnya berkata.

Aku merindukannya.” Kata-kata itu membuat Jinyoung melihat ke arah Suji. Gadis itu masih menatap lurus ke depan dan Jinyoung tidak bisa membaca ekspresi wajahnya. “Aku merindukan saat kita masih menjadi trainee, ketika kita bisa pergi tanpa mengkhawatirkan penggemar dan reporter.”

Jinyoung tidak berkata apa-apa. Dia mengerti perasaan itu, tapi dia tahu apa yang ia rasakan tidak sampai setengah dari apa yang Suji rasakan. Gadis itu sudah berada di level yang berbeda. Bagaimanapun juga dia adalah the nation’s first love.

Kamu datang dengan sepeda?” Jinyoung mendapati Suji melihat ke arah sepeda di samping bangku yang mereka duduki.

“Hmm, aku belum mendapat driver license, dan aku bahkan tidak punya mobil.” Dia tertawa pelan, membuat Suji melihat ke arahnya dan tersenyum kecil. Gadis itu kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke sungai.

Aku ingat kau pernah bilang ingin kencan di Han-gang, mengendarai sepeda bersama pacarmu.” Lagi, Jinyoung tidak bisa membaca ekspresi wajah Suji. Dia sendiri tidak tahu apakah ia harus senang dengan fakta bahwa gadis itu masih mengingat hal tersebut.

“Yeah, tapi sepertinya itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat,” kata Jinyoung akhirnya. Dia sekarang menundukkan kepalanya, terjadi pergumulan di dalam benaknya. Dan Jinyoung pun memutuskan.

“Hey, aku belum mengatakan ini padamu secara langsung, dan aku harap ini belum terlambat.” Jinyoung menunggu Suji untuk melihat ke arahnya dan memberikan gadis itu senyuman tulusnya sebelum berkata, “Selamat atas hubunganmu.”

Suji menggigit bibir bawahnya, dan Jinyoung bisa melihat mata gadis di hadapannya memberikan tatapan itu kembali. Cepat-cepat dia mengalihkan pandangannya ketika ia menyadari ada air mata di mata gadis itu.

Pasti lega rasanya akhirnya bisa mengakui hubunganmu ke publik, ya kan? Dan yang paling bagus lagi semua orang mendukungmu.” Jinyoung menghela napas tapi tetap memastikan untuk tersenyum.Aku masih harus melalui jalan yang panjang untuk bisa merasakan hal itu.”

Maafkan aku,” Suji berkata pelan. Jinyoung melirik ke arahnya, gadis itu sudah menundukkan kepalanya. Jinyoung tahu gadis itu berusah menahan tangisannya

Untuk apa?” tanya Jinyoung tenang. “Kau tidak melakukan kesalahan apapun padaku. Ini bukan berarti kau mengkhianatiku, kan?”

Sekarang Jinyoung mendengar Suji mulai terisak. Bahunya naik turun dan ia terlihat memeluk dirinya sendiri. Jinyoung tidak sanggup melihatnya, dia tidak sanggup melihat Suji seperti itu. Pemuda itu mencoba untuk mengatur emosinya sendiri.

Aku tidak akan memintamu untuk berhenti, tapi berjanjilah padaku ini terakhir kalinya kau menangis karena… ini.” Jinyoung berkata sambil melepas jaketnya dan meletakkan jaket itu di pundak Suji. Dengan lembut ia menyentuh dagu gadis itu dan membuat Suji melihat ke arahnya . “Aku mau melihatmu tersenyum besok. Kau berhak untuk bahagia, Suji-ya.”

Keduanya terdiam untuk beberapa saat dengan tetap mempertahankan kontak mata di antara mereka. Tangisan Suji perlahan berhenti. “Hapus air matamu, aku sudah tudak punya hak untuk menghapusnya lagi.”

Suji dengan cepat menundukkan kepalanya dan menghapus air matanya. Setelah itu ia kembali menatap Jinyoung dan bertanya,Tapi, kita tetap teman, kan?”

Jinyoung tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Kita teman, seperti selama ini.”

Jinyoung menepuk kepala Suji sebelum bangkit berdiri. “Aku akan pergi duluan. Kau harus pulang juga, kau masih harus melakukan rehearsal besok pagi.”

Pemuda itu melangkah menjauh dan melirik Suji untuk terakhir kalinya sebelum menaiki sepedanya. Gadis itu masih duduk di sana, kepalanya kembali tertunduk dan tangannya memegang jaket Jinyoung dengan erat.

Selamat tinggal, chingu-ya,” Jinyoung berbisik pelan pada dirinya sendiri. Dia mulai mengayuh sepedanya sambil tetap menundukkan kepala. Dia tidak mau Suji atau siapa pun melihat sesuatu yang hangat mengalir menuruni pipinya. 

***

Also posted on asianfanfics in english.